Obat Mahal, JK Minta KPPU Selidiki Bisnis Farmasi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Presiden Jusuf Kalla. TEMPO/Subekti

    Wakil Presiden Jusuf Kalla. TEMPO/Subekti

    TEMPO.COJakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta Komisi Pengawas Persaingan Usaha memeriksa alur jual beli obat di Indonesia, Kamis, 12 November 2015. JK juga meminta masyarakat cerdas memilih obat.

    "Nanti minta KPPU periksa alur obat macam mana agar itu jangan seperti sekarang ini," kata JK di Istana Wakil Presiden kemarin. JK mengatakan, harga obat di Indonesia mahal meskipun biaya konsultasi dokter murah.

    Kondisi itu, kata JK, terbalik dengan di luar negeri. Mahalnya obat di dalam negeri menjadi salah satu penyebab banyak orang akhirnya memilih berobat ke luar negeri. "Banyak pejabat yang berobat di luar negeri," kata dia.

    Sesuai temuan Tim Investigasi Majalah Tempo, ada kolusi antara perusahaan farmasi dan dokter ketika meresepkan obat-obat tertentu kepada pasien. Berdasarkan data yang dimiliki Tempo, PT Interbat diduga menggelontorkan duit hingga Rp 131 miliar dalam tiga tahun, yaitu sejak 2013 hingga 2015. Uang itu diberikan kepada para dokter. Tujuannya, diduga agar dokter meresepkan obat-obatan produksi Interbat.

    Duit tersebut diduga mengalir ke setidaknya 2.125 dokter dan 151 rumah sakit yang tersebar di lima provinsi, yaitu Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Data yang dimiliki Tempo juga menunjukkan seorang dokter bisa menerima uang dari Rp 5 juta sampai Rp 2,5 miliar.

    JK mengakui ada perbedaan harga yang jauh antara obat generik dan paten padahal kualitasnya tak jauh berbeda. Para dokter yang menerima gratifikasi, menurut hasil investigasi Tempo, cenderung enggan meresepkan obat generik kepada pasiennya. "Antara obat generik dan paten memang hampir sama, cuma harganya berbeda jauh. Jadi, pasien juga harus cerdas untuk tidak tergantung," kata dia.

    Praktik kolusi antara dokter dan perusahaan farmasi ini dibungkus dalam bentuk kerja sama. Dalam kerja sama itu, dokter akan menerima diskon penjualan obat sebesar 10-20 persen dari perusahaan farmasi. Namun, yang sangat janggal, diskon tersebut diberikan dalam bentuk uang dan fasilitas lainnya.

    TIKA PRIMANDARI/TIM INVESTIGASI TEMPO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Akar Bajakah Tunggal, Ramuan Suku Dayak Diklaim Bisa Obati Kanker

    Tiga siswa SMAN 2 Palangka Raya melakukan penelitian yang menemukan khasiat akar bajakah tunggal. Dalam penelitian, senyawa bajakah bisa obati kanker.