Uskup Agung Semarang Sakit Paru-paru Sebelum Meninggal  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Uskup Semarang, Johanes Pujo Sumarta memimpin Misa orang sakit di Rumah Sakit Elisabeth Semarang, 15 Februari 2015. TEMPO/Budi Purwanto

    Uskup Semarang, Johanes Pujo Sumarta memimpin Misa orang sakit di Rumah Sakit Elisabeth Semarang, 15 Februari 2015. TEMPO/Budi Purwanto

    TEMPO.CO, Semarang - Uskup Agung Semarang Monsinyur Johannes Pujasumarta sudah 1,5 tahun lalu rutin keluar-masuk rumah sakit mengobati penyakitnya. Saat perawatan di rumah sakit, Pujasumarta dirawat di Rumah Sakit Elisabeth Semarang di kamar Anna 402.

    "Sejak 1,5 tahun lalu diketahui sakit di paru-paru, sudah stadium empat," Ketua Komisi Hubungan Antarlembaga Keuskupan Agung Semarang Aloys Budi Purnomo, 
    Rabu, 11 November 2015.

    Ia mengembuskan napas terakhir pada Selasa, 10 November 2015, sekitar pukul 23.35 WIB. Uskup kelahiran Surakarta, 27 Desember 1949, itu meninggal saat dirawat di Rumah Sakit Elisabeth Semarang, rumah sakit yang merawatnya selama dua bulan ini.

    Budi menyatakan pada menit-menit akhir sebelum mengembuskan napas terakhir, almarhum, yang merupakan anak pasangan Hubertus Soekarto Pudjasumarto-Agnes Soekarti Pudjasumarto, didoakan oleh segenap kerabat dan sahabat.

    "Penyerahan tadi malam luar biasa. Almarhum meninggal dalam iringan lagu Nderek Dewi Maria," katanya.

    Pada pukul 10.00 WIB, jenazah disemayamkan di Gereja Katedral Semarang untuk didoakan dalam misa. Selanjutnya, jenazah dibawa ke Yogyakarta untuk dimakamkan di kompleks Seminari Tinggi Santo Paulus, Kentungan, Yogyakarta, pada Kamis, 12 November 2015.

    Setelah itu, jenazah disemayamkan di kompleks Seminari Tinggi Kentungan. Rencananya, jenazah baru dimakamkan pada Jumat, 13 Noveber 2015, pukul 10.00 WIB. Pujasumarta menjadi Uskup Agung Semarang sejak 2010. Sebelumnya, pada 2008-2010, ia menjadi uskup di Bandung.

    ROFIUDDIN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.