Jadi Pahlawan, Begini Kisah Perjuangan Ki Bagus Hadikusumo  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo memberikan penganugrahan gelar pahlawan nasional di Istana Negara, Jakarta, 5 November 2015. Lima tokoh diberi gelar pahlawan nasional yakni Bernard Wilhem Lapian (alm), Mas Iman (alm), Komjen Pol Moehammad Jasin (alm), I Gusti Ngurah Made Agung (alm) dan Ki Bagus Hadikusumo (alm). Tempo/ Aditia Noviansyah

    Presiden Joko Widodo memberikan penganugrahan gelar pahlawan nasional di Istana Negara, Jakarta, 5 November 2015. Lima tokoh diberi gelar pahlawan nasional yakni Bernard Wilhem Lapian (alm), Mas Iman (alm), Komjen Pol Moehammad Jasin (alm), I Gusti Ngurah Made Agung (alm) dan Ki Bagus Hadikusumo (alm). Tempo/ Aditia Noviansyah

    TEMPO.COJakarta - Ki Bagus Hadikusumo merupakan tokoh Pengurus Besar Muhammadiyah, yang telah memimpin selama 11 tahun sejak 1942 sampai 1953. Ki Bagus terlahir dengan nama R. Hidayat, putra ketiga dari Raden Haji Lurah Hasyim, seorang abdi dalem putihan agama Islam di Kraton Yogyakarta. 

    Sejak kecil Ki Bagus hidup di tengah-tengah keluarga santri. Ia mulai memperoleh pendidikan agama dari orang tuanya dan beberapa kiai di Kauman. Setelah tamat dari ‘Sekolah Ongko Loro’ (tiga tahun tingkat sekolah dasar), Ki Bagus belajar di Pesantren Wonokromo, Yogyakarta. Di pesantren ini, Ki Bagus banyak mengkaji kitab-kitab fiqih dan tasawuf.

    Meski hanya lulusan sekolah rakyat, karena sejak kecil dididik untuk mengaji di pesantren dan tekun mempelajari kitab-kitab terkenal akhirnya Ki Bagus menjadi orang alim, mubaligh, dan pemimpin umat. 

    BACA JUGA
    Hijaber Cantik UNJ Tewas, Ini Alasan Delea ke Bandung
    Gadis Payung nan Cantik Itu Jadi Kekasih Rossi, Ini Kisahnya

    Hadirnya Ki Bagus Hadikusumo sebagai Ketua PB Muhammadiyah berawal saat terjadi pergolakan politik internasional, yaitu pecahnya Perang Dunia II. Ki Bagus diminta oleh KH. Mas Mansur untuk menggantikannya sebagai Ketua PB Muhammadiyah pada Kongres ke-26 tahun 1937 di Yogyakarta karena Mas Mansur dipaksa menjadi anggota pengurus Pusat Tenaga Rakyat (PUTERA) di Jakarta pada 1942.

    Sebelum menjadi Pengurus Besar, Ki Bagus juga pernah menjadi Ketua Majelis Tabligh (1922), Ketua Majelis Tarjih, dan anggota Komisi MPM Hoofdbestuur Muhammadiyah (1926). Selama berkiprah di Muhammadiyah ia juga berhasil merumuskan pokok pemikiran KH. Ahmad Dahlan. Pokok pemikiran tersebut kini menjadi dasar ideologi Muhammadiyah, yaitu Matan Kepribadian Muhammadiyah dan Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah.

    Saat memimpin Muhammadiyah, Ki Bagus Hadikusumo berani menentang perintah pimpinan tentara Dai Nippon yang terkenal ganas dan kejam. Kala itu umat Islam dan warga Muhammadiyah diperintahkan melakukan upacara kebaktian tiap pagi sebagai penghormatan kepada Dewa Matahari.

    Ki Bagus juga sangat produktif dalam menuliskan buah pikirannya. Buku-buku karyanya antara lain Islam sebagai Dasar Negara dan Achlaq Pemimpin. Terdapat pula karya-karyanya yang lain, yaitu Risalah Katresnan Djati (1935), Poestaka Hadi (1936), Poestaka Islam (1940), Poestaka Ichsan (1941), dan Poestaka Iman (1954). 

    Dari buku-buku karyanya tersebut tercer­min komitmennya terhadap etika bahkan syariat Islam. Dari komitmen tersebut, Ki Bagus termasuk seorang tokoh yang memiliki kecenderungan kuat untuk pelembagaan Islam.

    Ki Bagus Hadikusumo wafat di usia 64 tahun. Kemarin, Selasa, 10 November 2015 bertepatan dengan Hari Pahlawan, ia diberi gelar Pahlawan Nasional Republik Indonesia oleh Presiden Joko Widodo.

    DESTRIANITA K

    SIMAK
    Ini 10 Bukti Van Gaal Tetap Paling Pas buat Man United
    Ely Sugigi, Awali Karier Jadi Pengumpul Penonton Acara TV



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.