Jokowi Resmikan Kapal Pengangkut Ternak, Biar Sapi Tak Stres  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sapi impor diturunkan dari kapal di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Juni 2014. TEMPO/Tony Hartawan

    Sapi impor diturunkan dari kapal di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Juni 2014. TEMPO/Tony Hartawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo siang ini meresmikan kapal pengangkut ternak pertama di Indonesia saat melakukan kunjungan kerja di Bangkalan, Jawa Timur. Jokowi mengatakan kapal berkapasitas 500 ekor sapi ini dapat mempersingkat waktu pengangkutan ternak dari Nusa Tenggara Timur.

    "Kiriman sapi dari NTT pakai truk sampai di Jakarta sapinya lemas semuanya karena perjalanan yang sangat panjang dan posisi sapinya tidak pada posisi yang baik," katanya ketika memberikan sambutan dalam peresmian beberapa kapal di Bangkalan, Selasa, 10 November 2015.‎

    ‎Kapal ini, kata Jokowi, diharapkan dapat mempercepat arus barang dan ternak. Presiden menilai efisiensi ini dapat membuat harga angkutan lebih murah sehingga para peternak dapat bersaing dengan lebih kompetitif. "Kekalahan kita selalu pada harga angkutan sampai bisa masuk ke Jakarta," ucapnya.

    Selama ini, kata Presiden, produk sapi asal Indonesia selalu kalah bersaing karena biaya angkut yang tinggi. Menurut dia, sapi asal Australia bisa bersaing di pasar internasional karena biaya transportasi yang murah. Kapal ini diharapkan juga bisa merealisasi program tol laut. "Sesuai dengan target kapal yang menghubungkan antarpulau disebut tol laut, satu demi satu sudah diresmikan," ujarnya.

    Kapal yang diresmikan Presiden adalah Kapal Khusus Pengangkut Ternak KM Camara Nusantara1, Kapal Perintis Tipe 750 DWT KM Sabuk Nusantara 56, dan Kapal Perintis Tipe 750 DWT KM Sabuk Nusantara 55. Jokowi mengatakan, untuk menjamin distribusi logistik nasional, Kementerian Perhubungan telah memesan 200 kapal tahun ini dan 160 kapal tahun depan.

    Sementara itu, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengatakan KM Sabuk Nusantara 56 dapat membawa 500 sapi dengan rute Kupang-Bima-Tanjung Perak -Tanjung Emas-Bima-Kupang. "Kapal itu harus menjamin ternak tidak boleh stres, tertekan, dan diberi ruang gerak," kata Jonan.

    ANANDA TERESIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.