Kenapa Bung Tomo Sering Dihina Pejuang Surabaya?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bung Tomo bersiap melakukan siaran radio, 1947. Dok.Dukut

    Bung Tomo bersiap melakukan siaran radio, 1947. Dok.Dukut

    TEMPO.COJakarta - Tak ada yang meragukan kemampuan Sutomo alias Bung Tomo dalam berpidato. Orasi Bung Tomo terbukti mampu membakar semangat para pemuda dalam pertempuran di Surabaya. Sejarawan Rushdy Hoesein mengatakan, para pemuda kerap berkumpul di bawah pengeras suara mendengar pidato Bung Tomo yang disiarkan melalui radio.

    Nyatanya, kemampuan Bung Tomo tidak sepenuhnya diakui. Menurut putra Bung Tomo, Bambang Sulistomo, ayahnya kerap dicela karena hanya lulusan Holland Inlander School atau sekolah rendah untuk kaum pribumi di Surabaya.

    SIMAK: Pertempuran Surabaya dan Teks Resolusi Jihad Kedua Kiai NU

    "Bapak pernah dihina oleh orang-orang intelektual, ‘Bung Tomo ngerti apa, enggak sekolah’," kata Bambang saat bertandang ke kantor Tempo pertengahan Oktober 2015. Menurut Bambang, pencela Bung Tomo tak lain mereka yang juga berjuang di Surabaya. Bambang enggan menyebutkan pejuang Surabaya yang mengejek ayahnya.

    Istri Bung Tomo, Sulistina, juga membenarkan. "Banyak yang bilang, Bung Tomo itu pintar tapi sekolahnya rendah," ujarnya. Dalam buku Bung Tomo Suamiku: Biar Rakyat yang Menilai Kepahlawananmu dan beberapa buku lain disebutkan Sutomo pernah mengenyam Leidse Scrift Onderwiys Hoogere Burgerschool (HBS), pendidikan menengah setingkat SMP dan SMA selama lima tahun.

    Cuma, Sulistina dan Bambang mengatakan, Bung Tomo tak pernah lulus HBS.

    Siapa sosok Sutomo alias Bung Tomo sesungguhnya? Baca selengkapnya Edisi Khusus Bung Tomo Penyebar Warta Palagan Surabaya di Majalah Tempo pekan ini.

    PRAMONO

    Baca juga:
    Bung Tomo: Pekik Allahu Akbar hingga Kritik Sukarno & Mahasiswi Nakal
    Kisah Hidup Ely Sugigi: Bermula dari Mengurus Penonton Acara TV

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.