Di Enrekang, Polisi Tak Disiplin Wajib Ngepel Masjid

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/ Machfoed Gembong

    TEMPO/ Machfoed Gembong

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Kepolisian Resor Enrekang, Sulawesi Selatan, Ajun Komisaris Besar Leo Joko Triwibowo menerapkan sanksi terhadap anggotanya yang melanggar disiplin dan etika dengan cara beribadah dan melayani jemaah di dalam masjid.

    "Pokoknya semua dilakukan anggota. Mulai dari membersihkan masjid, menyapu, mengepel, hingga mengatur sendal para anggota jemaah yang datang beribadah. Anggota tidak boleh keluar dari masjid selama masa hukuman," ujarnya di Enrekang, Minggu, 8 November 2015.

    "Sejak saya masuk menjabat Kapolres di Enrekang ini, saya menerapkan sanksi hukumannya di masjid untuk anggota yang beragama Islam," ucapnya.

    Leo mengatakan program pembentukan dan penguatan mental serta iman itu menjadi andalannya dalam menghadapi masalah pelanggaran dari anak buahnya tersebut.

    Menurut Leo, pelanggaran yang dilakukan anggota itu sudah disadarinya dan karena mengabaikan sanksi-sanksi yang mengaturnya sehingga pelanggaran kerap dilakukan anggota tertentu.

    Namun, dengan program pemberian sanksi itu, Leo mengaku bahwa programnya cukup ampuh dan sudah terbukti terhadap para anggotanya yang melanggar hukum, baik disengaja maupun yang tidak disengaja.

    "Kan anggota yang melakukan pelanggaran itu bermasalah pada mental dan keimanannya. Nah, ini yang coba saya perbaiki agar mereka yang melanggar bisa menyadari kesalahannya," katanya.

    Sejak bertugas di Polres Enrekang setahun lalu, dia mulai menerapkan metode penghukuman itu dan terbukti sudah lebih dai 10 anggotanya mengakui kesalahan tanpa mengulanginya.

    Bahkan mereka yang pernah menjalani masa hukuman sesuai dengan ketentuan undang-undang dan peraturan Polri itu memperlihatkan adanya perubahan yang cukup signifikan.

    Perubahan itu meliputi mental serta keimanannya. Mereka lebih rajin dan taat beribadah karena selama masa penghukuman selama 21 hari itu para pelanggar diharuskan menginap di masjid.

    "Sesuai dengan jumlah hari penahanannya. Kalau pelanggaran disiplin biasanya 21 hari dan itu kami tidak kurung di penjara. Kami justru kurung anggota di masjid dan tidak boleh keluar selama masa hukuman," tuturnya.

    Kapolres melanjutkan, anggota yang melakukan pelanggaran sepenuhnya mendapatkan bimbingan dari ulama setempat dan rohaninya terus diperbaiki hingga akhirnya mereka mengakui kesalahan.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.