Menteri Luhut Bantah Pertemuan Jokowi-Obama Hasil Lobi Perusahaan PR  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Barack Obama, bersalaman dengan Presiden Joko Widodo saat pertemuaannya di Gedung Putih, Washington, 27 Oktober 2015. Ini merupakan kunjungan pertama Presiden Jokowi ke Amerika setelah menjadi Presiden. AP/Susan Walsh

    Presiden Barack Obama, bersalaman dengan Presiden Joko Widodo saat pertemuaannya di Gedung Putih, Washington, 27 Oktober 2015. Ini merupakan kunjungan pertama Presiden Jokowi ke Amerika setelah menjadi Presiden. AP/Susan Walsh

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Pandjaitan menegaskan bahwa pertemuan antara Presiden Joko Widodo dan Presiden Barack Obama beberapa pekan lalu bukan hasil lobi dari perusahaan public relations di Las Vegas. Kunjungan tersebut, kata dia, murni dipersiapkan Kementerian Luar Negeri.

    "Tidak ada urusan Kemlu dengan pelobi-pelobi di Amerika sana. Kunker Presiden kemarin itu adalah atas undangan Presiden Obama. Tidak ada urusannya dengan lobbyist," ucapnya kepada Tempo di Jakarta, Sabtu, 7 November 2015.

    Luhut menegaskan, setelah menerima undangan dari Presiden Obama, Kementerian Luar Negeri kemudian mempersiapkan segala kebutuhan Presiden. Dalam proses penyiapan kunjungan itu, kata dia, Kementerian Luar Negeri atau pemerintah Indonesia tidak pernah berhubungan dengan perusahaan public relations asal Singapura atau Las Vegas. "Pisahkan antara lobi dan kunjungan kerja Presiden. Kunker sudah diatur sejak awal," katanya.

    Mantan Kepala Kantor Staf Presiden itu mengatakan Obama sudah mengundang Jokowi ke Amerika sejak pertemuan mereka dalam Konferensi APEC pada November tahun lalu. Undangan resmi dari pemerintah Amerika Serikat diterima pemerintah Indonesia pada Maret lalu. "Jadi, memang Presiden Obama sendiri yang mengundang Pak Jokowi," tuturnya.

    Dalam persiapan kunjungan Jokowi ke Amerika, Luhut mengatakan, seluruh proses dipimpin Kementerian Luar Negeri dan dibantu beberapa kementerian terkait yang bidangnya berkaitan dengan agenda pertemuan di Amerika. "Kita yang lain hanya bantu-bantu. Leading minister-nya tetap Ibu Retno," katanya.

    Dalam situs New Mandala disebutkan bahwa Indonesia meminta bantuan sebuah konsultan public relations asal Singapura agar pertemuan antara Presiden Jokowi dan Presiden Obama dapat terealisasi. Konsultan asal Singapura itu kemudian membayar US$ 80 ribu kepada pihak ketiga yang memfasilitasi pertemuan Jokowi dengan Obama.

    Konsultan PR asal Singapura yang berperan dalam pertemuan tersebut adalah Pereira International PTE LTD. Konsultan itu membuat kontrak dengan perusahaan PR di Las Vegas, R&R Patners Inc, dengan bayaran senilai US$ 80 ribu. R&R Patners bertugas mengomunikasikan kepentingan RI ke AS yang fokusnya antara lain masalah keamanan, perdagangan, dan ekonomi.

    ANANDA TERESIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.