Risma dan Bupati Batang Terima Bung Hatta Award 2015

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini saat berbincang dengan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi di ruang kerjanya, di Gedung KemenPAN-RB, Jakarta, 4 Agustus 2015. Dalam pertemuan tersebut, Risma membahas kurangnya tenaga dokter spesialis dan guru Pegawai Negeri Sipil di Surabaya. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Ekspresi Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini saat berbincang dengan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi di ruang kerjanya, di Gedung KemenPAN-RB, Jakarta, 4 Agustus 2015. Dalam pertemuan tersebut, Risma membahas kurangnya tenaga dokter spesialis dan guru Pegawai Negeri Sipil di Surabaya. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dan Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo menerima anugerah Bung Hatta Anti-Corruption Award (BHACA) atas kiprahnya dalam pemberantasan korupsi melalui sistem pemerintahan yang bersih. Penganugerahan yang diserahkan kepada Risma dan Yoyok pada Kamis, 5 November 2015, di Graha Niaga, Jakarta Selatan, tersebut diserahkan langsung oleh putri Bung Hatta, Meutia Hatta.

    "Selayaknya anugerah ini diberikan kepada warga Surabaya dan seluruh aparat pemerintah Surabaya. Berkat mereka, pemerintahan saya dapat berjalan dengan baik," ujar Risma usai menerima anugerah tersebut.

    Menurut Risma, selama menjadi Wali Kota Surabaya, dirinya merasakan kesulitan untuk mengajarkan tata kelola pemerintahan yang baik dan benar kepada masyarakat ataupun aparat pemerintah.

    "Sering saya merasa sendiri, sangat berat sekali di pemerintahan. Saya pernah ketemu dengan Pak Yoyok dan dia bilang, 'Bu, enake mundur bareng-bareng'. Memang berat, terus terang, kami mencoba hati-hati pun kadang keliru," tutur Risma.

    Akan tetapi, Risma bersyukur, berkat keteguhan niatnya melayani masyarakat, dirinya tetap bertahan memimpin Surabaya. "Ada kekuasaan Tuhan yang mengatur sehingga dapat menjalankan amanah," kata Risma.

    Bupati Batang, Yoyok, yang berbicara setelah Risma, juga menyatakan hal yang sama. "Dengar Mbak Risma mau mundur, saya tepuk tangan. Wah, ana kancane, mundur sisan. Tapi jebule ora wani. (Wah, ada temannya, mundur sekalian. Tapi ternyata tidak berani)," kata Yoyok sembari tertawa.

    Bupati yang humoris ini juga memuji sosok Risma yang sangat berdedikasi tinggi dalam memegang tampuk kepemimpinan Surabaya. "Mbak Risma ini guru saya ya. Dia ini begitu ceprot lahir, sudah dilahirkan sebagai pegawai negeri. Kamu ditahbiskan sebagai pegawai negeri, Risma," ujar Yoyok dengan nada yang lebih berat seolah-olah sedang memberikan amanah kepada Risma.

    Di akhir acara, Ketua Dewan Pengurus Harian BHACA Natalia Soebagjo optimis bahwa ke depannya, Indonesia tetap akan melahirkan tokoh-tokoh yang jauh dari korupsi. "Bagaimana kita bisa membangun optimisme kembali? Melalui mutiara-mutiara dalam lumpur yang tetap bersih yang mampu memberantas korupsi, seperti Bu Risma dan Pak Yoyok ini," kata Natalia.

    Salah satu anggota Dewan Juri BHACA, Zainal A. Mochtar mengatakan, dengan penganugerahan ini, para penerima anugerah harus menjaga predikat antikorupsi tersebut. "Jadi bukan seperti beli putus," ujar Zainal.

    Zainal pun mengatakan bahwa Risma dan Yoyok memiliki kriteria sebagai sosok yang bersih yang jauh dari korupsi. "Kedua penerima ini bukan gagah karena mereka pemimpin daerah, tetapi karena mereka berani menghajar gelombang samudera. Semoga mereka bisa menjadi bintang kejora sekaligus virus bagi pejabat yang lainnya," kata Zainal.

    ANGELINA ANJAR SAWITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.