Suap Obat, Calon Dokter Juga Didekati Perusahaan Farmasi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi. TEMPO/Kink Kusuma Rein

    Ilustrasi. TEMPO/Kink Kusuma Rein

    TEMPO.CO, Jakarta - Berbagai cara ditempuh perusahaan obat agar produknya terjual. Penelusuran tim investigasi Tempo menunjukkan perusahaan obat kerap memberikan duit atau barang kepada para dokter agar dokter meresepkan obat produksi perusahaan tersebut kepada pasien. (Baca: EKSKLUSIF: 2.125 Dokter Diduga Terima Suap Obat Rp 131 M)

    Seorang petinggi perusahaan farmasi besar di Indonesia bercerita, pabrik obat juga mendekati sejumlah dokter yang menjadi pengajar di fakultas kedokteran. “Lalu dokter yang sudah diberi hadiah akan mempromosikan secara halus obat merek tertentu,” katanya kepada Tempo awal Oktober lalu. (Baca: EKSKLUSIF, Suap Dokter: Begini Akal-akalan Orang Farmasi)

    Petinggi perusahaan farmasi lain berujar, dokter senior kerap mengenalkan calon dokter atau calon dokter spesialis saat bertemu dengan perwakilan perusahaan obat. Biasanya, “hubungan gelap” perusahaan farmasi dengan calon dokter atau calon dokter spesialis pun berlanjut. "Calon dokter atau calon dokter spesialis itu bakal 'dipelihara' oleh perusahaan farmasi." (Baca: Suap Obat, Dokter Teddy Sebut Semua Farmasi Sama)

    Profesor Doktor Iwan Dwiprahasto, Ketua Formularium Nasional—penyusun daftar obat Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan, menuturkan dulu perusahaan farmasi kerap membantu para mahasiswa kedokteran. Misalnya dengan menyediakan pakaian praktek. “Tapi sekarang sudah dilarang,” tuturnya.

    Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ratna Sitompul membantah para mahasiswa dan dosen fakultasnya didekati perusahaan obat. “Sudah lama kami menekankan kepada para mahasiswa agar selalu menaati etika kedokteran,” katanya.

    TIM INVESTIGASI TEMPO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Manfaat dan Dampak Pemangkasan Eselon yang Dicetuskan Jokowi

    Jokowi ingin empat level eselon dijadikan dua level saja. Level yang hilang diganti menjadi jabatan fungsional.