Banyak Petani Gurem, Angka Kemiskinan di Indramayu Tinggi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang petani menanam biji palawija di areal sawah yang mengering di Indramayu, Jawa Barat, 7 Juli 2015. Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Indramayu, kekeringan mencapai 14.689 hektar dan terancam puso. ANTARA/Dedhez Anggara

    Seorang petani menanam biji palawija di areal sawah yang mengering di Indramayu, Jawa Barat, 7 Juli 2015. Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Indramayu, kekeringan mencapai 14.689 hektar dan terancam puso. ANTARA/Dedhez Anggara

    TEMPO.CO, Jakarta:  Tingkat kemiskinan di Kabupaten Indramayu tertinggi kedua di Jawa Barat. Padahal Kabupaten Indramayu selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung padi di Indonesia.

    “Jika berdasarkan data Susenas Jabar 2013, angka kemiskinan di Kabupaten Indramayu pada 2013 mencapai 14,99 persen,” kata Kepala Badan PUsat Statistik (BPS) Kabupaten Indramayu, Suhardono, Rabu 4 November 2015.

    Jika dibandingkan dengan target angka kemiskinan yang ditetapkan pemerintah pusat yang hanya 8 hingga 10 persen, angka 14,99 persen termasuk tinggi.

    Angka kemiskinan di Indramayu ini menempati posisi kedua tertinggi di Jawa Barat. Sementara itu, daerah yang angka kemiskinannya tertinggi di  provinsi ini, menurut Suhardono, yaitu Kota Tasikmalaya.

    Namun, angka kemiskinan di Indramayu turun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Untuk 2011 misalnya jumlah penduduk miskin mencapai 16,01 persen, tahun berikutnya menjadi 15,14 persen, sedangkan data 2014 masih dalam proses penghitungan.

    Tingginya angka kemiskinan di Indramayu dikarenakan sebagian besar petaninya berstatus buruh tani dan petani penggarap. Berdasarkan data dari kantor desa saat kegiatan pendataan potensi desa pada 2014, jumlah keluarga yang anggota keluarganya menjadi buruh tani mencapai 38,32 persen dari 571.180 keluarga di Kabupaten Indramayu.

    “Selain buruh tani dan petani penggarap, ada pula petani yang kepemilikan lahannya hanya kurang dari 0,5 hektar,” kata Suhardono. Petani ini dikenal dengan istilah petani gurem.

    Menurut Suhardono, bila dilihat dari segi ekonomi, petani gurem tidak dapat meningkatkan perekonomian dan taraf hidupnya. Ini dikarenakan biaya yang dikeluarkan belum sebanding dengan hasilnya. “Sedangkan untuk lahan pertanian yang luas hanya dimiliki segelintir orang,” lanjut Suhardono.

    Kasi Statistik Sosial BPS Indramayu Ujang Mauludin menambahkan, sebagian besar pertanian yang dikembangkan masyarakat bersifat tradisional. “Mereka hanya memproduksi hasil pertanian berupa bahan baku yang nilainya lebih kecil jika dibandingkan setelah diolah menjadi produk jadi,” katanya.

    IVANSYAH

    Baca juga:
    Suap Dokter=40 % Harga Obat: Ditawari Pergi Haji hingga PSK
    Ribut Sampah, Ahok Balik Gertak Yusril: Ngotot, Kami Ladeni! 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.