Anak Rinjani Meletus, Surono: Hanya Raungan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Debu vulkanik gunung Barujari menyembur dibalik puncak gunung Rinjani terlihat dari Kecamatan Pringgabaya, Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, 4 November 2015. Status Gunung Rinjani masih Waspada (level II) yang diberlakukan sejak 25-10-2015 pukul 13.00 WITA. ANTARA/Agung Wirawan

    Debu vulkanik gunung Barujari menyembur dibalik puncak gunung Rinjani terlihat dari Kecamatan Pringgabaya, Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, 4 November 2015. Status Gunung Rinjani masih Waspada (level II) yang diberlakukan sejak 25-10-2015 pukul 13.00 WITA. ANTARA/Agung Wirawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Gunung Barujari, Anak Rinjani, yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat, kembali meletus pada Selasa, 3 November 2015. Menurut tenaga ahli kebencanaan di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Surono, letusan tersebut hanya bersifat raungan.

    "Sebetulnya tinggi letusan sekitar 1.000-1.500 meter di atas kawah Barujari tidak besar, seperti raungan," katanya saat dihubungi Tempo, Rabu, 4 November 2015.

    Menurutnya, letusan Anak Rinjani tidak membahayakan masyarakat sekitar meski beberapa kali meletus. "Tidak ada periode jelas seberapa sering meletus, tapi tidak membahayakan masyarakat sekitar," katanya.

    Simak: Gunung Rinjani Meletus

    Indonesia, kata Surono, merupakan negara dengan gunung berapi terbanyak di dunia, dengan total yang masih aktif ada 127 gunung. Beberapa di antaranya, seperti Gunung Sinabung berstatus awas sejak akhir 2013, dan Gunung Karangetang atau Api Siau di Sulawesi Utara, berstatus siaga cukup lama.

    Sehingga, Surono menuturkan potensi gunung berapi di Indonesia meletus akan selalu ada setiap tahun. "Saya kira wajar. Pasti selalu ada letusan setiap tahun," katanya. "Misalnya Sinabung yang tidak berhenti dan gunung api lainnya."

    Pria yang akrab disapa Mbah Rono ini memberi saran pada warga yang tinggal di sekitar pegunungan berapi untuk waspada. "Ikuti maunya gunung api, karena gunung apinya lebih lama dari manusia," katanya. "Jaga sopan santun. Kalau meletus ada masanya berhenti. Kalau sudah berhenti akan membuat tanah subur, pemandangan indah."

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.