Inilah Cara Mengenali Timbangan yang Dicurangi Pedagang  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pekerja memeriksa Timbangan Meja yang baru selesai dibuat di kawasan Kerten, Surakarta, Jawa Tengah, 19 Juni 2015. Dalam seminggu, pabrik ini memproduksi 400 timbangan, dengan omzet rata-rata 300 juta perbulannya. TEMPO/Bram Selo Agung

    Pekerja memeriksa Timbangan Meja yang baru selesai dibuat di kawasan Kerten, Surakarta, Jawa Tengah, 19 Juni 2015. Dalam seminggu, pabrik ini memproduksi 400 timbangan, dengan omzet rata-rata 300 juta perbulannya. TEMPO/Bram Selo Agung

    TEMPO.CO, Bangkalan - Petugas Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur menggelar tera ulang timbangan di kantor Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Selasa, 3 November 2015. Puluhan pedagang di Pasar Kamal dan pemilik toko kelontong datang membawa timbangan mereka untuk diservis.

    "Mayoritas timbangan yang dibawa tidak sesuai dengan standar nasional," kata Dary, petugas tera dari Unit Pelaksana Tugas Bidang Kemetrologian Pamekasan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur.

    Menurut dia, ada banyak hal yang menyebabkan timbangan pedagang tidak sesuai dengan standar nasional, di antaranya cara pemakaian yang tidak tepat dan faktor alam, seperti karatan. Tentu ada juga yang sengaja diakali. "Tapi mayoritas yang dibawa ke sini karena faktor alam, yaitu karatan, sehingga keseimbangan berubah melewati batas toleransi selisih sebesar 20 gram untuk timbangan 5 kilogram," ujarnya.

    Sementara itu, Komarudin, salah satu petugas tera, menyebut ciri-ciri timbangan yang diakali pedagang. Menurut dia, bila pedagang buah atau pedagang sembako selalu meletakkan batu kiloan di atas timbangan, patut dicurigai timbangan tersebut telah diakali.

    Menurut Komar, cara umum mencurangi timbangan adalah membuang timah pemberat yang terletak di bawah timbangan. Agar timbangan tampak stabil, timah diganti dengan batu kiloan sebagai pemberat. "Kalau timah pemberat dibuang, selisihnya bisa mencapai setengah kilogram dari yang normal," tuturnya.

    Sementara itu, Sukron, pedagang di Pasar Kamal, meminta tera ulang tidak dilakukan sekali dalam satu tahun. Sebeb, kerusakan timbangan selalu membuat dia tekor. "Kalau bisa, ada petugas tera di tiap kecamatan. Jadi, kapan pun rusak, timbangan bisa langsung diperbaiki," ucapnya.

    Soal biaya tera, Sukron mengatakan tidak mahal. Untuk timbangan 5 kilogram hanya dikenai biaya Rp 6.500 per unit.

    MUSTHOFA BISRI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.