Diduga Suap Ribuan Dokter, Begini Jawaban Interbat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengacara Interbat, Peter Talaway. TEMPO/Artika Farmita

    Pengacara Interbat, Peter Talaway. TEMPO/Artika Farmita

    TEMPO.CO, Jakarta - Perusahaan obat PT Interbat diduga menyuap para dokter. Dokumen yang dimiliki Tempo menunjukkan lebih dari 2.100 dokter menerima pemberian dari perusahaan yang berdiri pada 1948 tersebut. (Baca: Eksklusif, 2.125 Dokter Diduga Terima Suap Obat Rp 131 Miliar)

    Direktur Utama Interbat Noto Sukamto menolak permintaan wawancara majalah Tempo. Dia meminta pengacaranya, Pieter Talaway, menjawab pertanyaan tim investigasi Tempo. Ditemui di kantornya di Surabaya, Jumat dua pekan lalu, Pieter membantah hasil penelusuran Tempo.

    Suap Dokter = 40 % Harga Obat: Inilah Modus yang Mengejutkan
    Eksklusif, Suap Obat: Dirut RSCM Pernah Ditawari PSK

    Pieter menuding perusahaan kliennya difitnah sejumlah karyawan yang sedang bersengketa dengan Interbat--perusahaan yang masuk lima besar farmasi di Indonesia. “Berita miring sudah banyak,” katanya. Berikut ini petikan wawancaranya.

    Mengapa Interbat memberikan komisi kepada para dokter?
    Semua perusahaan itu cari untung, tapi harus ikut aturan. Kalau mengirimkan sales untuk menawarkan dan mempromosikan obat ke dokter, masak enggak boleh?

    Kami memiliki dokumen yang menunjukkan Interbat memberi fee kepada dokter dan rumah sakit.
    Tidak ada komisi, hanya ada potongan. Kalau dia beli banyak, ya dapat potongan. Jadi tidak luar biasa kalau kami kasih potongan 50 persen. Diskon itu antara perusahaan dan apotek, bukan dokter.

    Tapi data dan informasi yang kami peroleh tidak seperti itu. Komisi diberikan agar dokter meresepkan obat produksi Interbat, benarkah?
    Dokter itu bukan orang bodoh. Mereka tunduk terhadap kode etik. Mereka tahu obat mana yang baik, dan itu yang dipakai. Komisi untuk para dokter itu nonsense.

    Sejumlah dokter mengatakan ditawari komisi oleh medical representative (medrep) Interbat dan mengaku menerima duit.
    Bisa saja karyawan pemasaran memakai trik yang tidak jujur untuk mengejar omzet. Tapi itu di luar aturan perusahaan, dan kami tidak mau begitu. Kalau ketahuan, karyawan itu kami tindak.

    Artinya, yang memberikan duit adalah medrep Interbat?
    Boleh jadi dia membohongi perusahaan. Bilangnya, transportasi mobil rusak, tapi dia ambil (duit pengganti) dari situ untuk bonus ke dokter. Ada target yang harus dipenuhi, lalu dia dapat bonus.

    Sebagian dokter menerima duit langsung dari rekening pemilik Interbat, Noto Sukamto. Apakah itu memang kebijakan perusahaan?
    Itu tidak mungkin. Kalau itu ada, tolong tunjukkan, dan kami akan laporkan ke polisi karena itu pasti palsu. Ini cara-cara karyawan Interbat mengancam perusahaan dengan cara yang tak fair. Ini keterlaluan.

    Mengapa karyawan mengancam perusahaan?
    Saat ini ada beberapa karyawan menuntut pesangon puluhan miliar rupiah kepada perusahaan melalui Pengadilan Hubungan Industrial. Mereka mengancam akan mempublikasikan kebobrokan perusahaan. Ini kan namanya pemerasan. Berita miring ini sudah banyak. Kadang-kadang mereka yang sedang memiliki perkara merekayasa sendiri.

    Tapi kami mendapatkan kopi bukti transaksinya (Tempo menunjukkan salah satu bukti cek untuk seorang dokter).
    Ini customer doang, tak terkait dengan pemberian kepada dokter. Tak ada pengiriman ke dokter sama sekali.

    Interbat juga membiayai sejumlah dokter ke luar negeri.
    Kalau ke luar negeri, pasti ada alasan lain. Mungkin ikatan dokter meminta sumbangan. Yang jelas, bukan karena dokter memberi resep. Itu nonsense. Sudahlah, logikanya tidak masuk. Kalau resep kan tergantung pasien. Saya penasihat hukum Interbat, tapi tidak pernah memakai produk Interbat, karena saya merasa tidak cocok.

    TIM INVESTIGASI TEMPO

    Baca juga:
    Suap Dokter=40 % Harga Obat: Ditawari Pergi Haji Hingga PSK
    Heboh Suap Dokter:  Resepkan, Nanti Aku Kasih Mobil....?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.