Ini Jurus Kapolda Sulsel Tepis Stigma Anarkistis di Makassar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota brimob berjaga saat bentrok di depan kampus UMI, Makassar, 27 November 2014. TEMPO/Iqbal Lubis

    Anggota brimob berjaga saat bentrok di depan kampus UMI, Makassar, 27 November 2014. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Makassar - Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Barat Inspektur Jenderal Pudji Hartanto Iskandar bertekad menghapus stigma anarkistis yang melekat di Sulawesi Selatan, khususnya Makassar. Pudji mengaku tidak nyaman dengan penilaian orang di luar daerah yang menyebut provinsi ini tidak aman.

    "Padahal hanya orang di luar saja yang heboh. Sulawesi Selatan aman kok," kata Pudji, Senin, 2 November 2015.

    Guna membahas permasalahan keamanan Sulawesi Selatan, kepolisian pun menggelar seminar dengan tema “Membangun Pandangan Positif untuk Menepis Pandangan Negatif tentang Sulawesi Selatan dengan Mengangkat Kearifan Lokal” di Balai Prajurit Jenderal M. Yusuf, Senin, 2 November. Dalam diskusi tersebut, pihaknya mengundang sejumlah tokoh nasional menjadi pembicara.

    Seminar itu dihadiri antara lain oleh mantan Kepala Badan Pembinaan Keamanan Komisaris Jenderal Purnawirawan Ismerda Lebang; anggota DPR RI, Akbar Faisal; Rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Dwia Aries Tina Palabuhu; serta duo budayawan, yakni Ishak Ngelajaratan dan Alwi Rahman. Dalam seminar itu, semua sepakat melawan stigma negatif di Sulawesi Selatan yang dinilai bisa berdampak pada perekonomian dan aspek sosial.

    Pudji menyebut pihaknya menyiapkan jurus untuk meredam aksi anarkistis mahasiswa dalam menyampaikan pendapat di depan umum. Eks Gubernur Akpol itu mengatakan solusi terbaik untuk mengantisipasi terjadinya demo anarkistis ialah dengan membuka ruang komunikasi.

    "Itu solusi yang paling tepat. Kepolisian terus berusaha membangun komunikasi itu supaya aspirasinya terpenuhi dan tidak ada aksi anarkistis," ujar Pudji.

    Rektor Universitas Hasanuddin Prof. Dwia Aries Tina Palabuhu juga sepakat memerangi stigma negatif Sulawesi Selatan dengan membangun citra positif. Universitas Hasanuddin akan membentuk forum komunikasi lintas sektor yang melibatkan akademisi, mahasiswa, pemerintah, dan aparat keamanan. "Kalau citra daerah ini buruk, yang sangat dirugikan sebenarnya adalah mahasiswa," katanya.

    Buruknya citra daerah yang dicap doyan melakukan aksi kekerasan dan kriminalitas membuat alumnus nantinya kesulitan mencari lapangan pekerjaan. Universitas Hasanuddin mulai memerangi pemicu munculnya stigma negatif itu, yakni tawuran di kampus. Kampus Merah itu telah mengidentifikasi beberapa penyebab tawuran, yakni persoalan individu yang dibawa ke kampus dan kurangnya aktivitas belajar mahasiswa karena jam kuliahnya bolong-bolong.



    TRI YARI KURNIAWAN

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.