Setelah N219, Pesawat Jenis Ini yang Akan Digarap PT DI

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesawat N-219. indonesian-aerospace.com

    Pesawat N-219. indonesian-aerospace.com

    TEMPO.CO, Bandung - Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso mengatakan, PT DI akan kembali memproduksi pesawat komersil setelah proyek pesawat N219 rampung. Saat ini, PT DI tengah merampungkan prototype pesawat perintis N219.

    Rencananya, pertengahan bulan ini, pesawat yang mampu menampung 19 penumpang ini akan dipertunjukan kepada publik. "Setelah N219. Kita akan buat pesawat baru yang 50 penumpang," ujar Budi kepada wartawan, Sabtu 31 Oktober 2015.

    Menurut Budi, pengalaman membuat N219 merupakan modal bagi PT DI untuk mengembangkan proyek pesawat terbang komersil. Dalam proses pembuatan N219, PT DI bersinergi dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional yang berperan sebagai pihak yang melakukan penelitian dan pengembangan pesawat.

    "Dengan pengatahuan yang sudah ada, pesawat yang baru, akan diusahakan menggunakan 80 persen komponen yang sudah ada," ujar Budi.

    Proyek pesawat 50 penumpang tersebut, rencananya akan digagas satu hingga dua tahun ke depan setelah pesawat N219 berhasil mendapat sertifikasi laik terbang.

    "Mudah-mudahan satu-dua tahun ke depan akan mulai kita rancang " ujar Budi.

    Menurut Budi, selain untuk kebutuhan industri, proyek-proyek pembuatan pesawat tersebut pun digagas sebagai ajang regenarasi sumbrr daya manusia di PT DI. Budi mengatakan, saat ini, engenering dan tenaga ahli PT DI sudah memasuki usia tua.

    "Maka dari itu, proyek pesawat N219 misalnya dilakukan untuk meregenerasi tenaga ahli kita. Karena dalam pembuatan N219 semua menggunakan teknologi yang baru," kata Budi.

    Prototype pesawat perintis N219 saat ini telah memasuki ke tahap pengecetan. Meskipun, masih berupa prototype, sejumlah perusahaan maskapai komersil baik luar dan dalam negeri sudah mengantre untuk memesan N219.

    Pesawat tersebut digadang-gadang dapat membantu mobilitas masyarakat yang berada di wilayah yang berbukit. Lantaran, pesawat tersebut dirancang untuk digunakan di kawasan yang infrastruktur bandaranya masih belum sempurna. Pesawat ini mampu mendarat di landasan tak berasapal.

    IQBAL T. LAZUARDI S


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rincian Pasal-Pasal yang Diduga Bermasalah di Revisi UU KPK

    Banyak pasal dalam perubahan kedua Undang-Undang Komisi Pemberantasan Korupsi, atau Revisi UU KPK, yang disahkan DPR, berpotensi melemahkan KPK.