Pemerintah Siapkan 500 Rumah untuk Suku Anak Dalam  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi mengunjungi masyarakat Suku Anak Dalam di Jambi, Jumat, 30 Oktober 2015. Jokowi menanyakan langsung kepada mereka soa kebiasaan suku Anak Dalam yang biasa hidup berpindah atau nomaden. Dok. Tim Komunikasi Presiden

    Presiden Jokowi mengunjungi masyarakat Suku Anak Dalam di Jambi, Jumat, 30 Oktober 2015. Jokowi menanyakan langsung kepada mereka soa kebiasaan suku Anak Dalam yang biasa hidup berpindah atau nomaden. Dok. Tim Komunikasi Presiden

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan pemerintah berencana membangun 500 rumah untuk Suku Anak Dalam di Jambi. Pemerintah juga telah mencoba menyiapkan sejumlah lahan sebagai tempat untuk membangun rumah-rumah tersebut. "Kami siapkan lahan sebesar 1.000 hektare," kata Khofifah saat ditemui di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Minggu, 1 November 2015.

    Program ini merupakan kerja sama Kementerian Sosial, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat serta pemerintah daerah setempat. Menurut Khofifah, ia sudah menemui 4 Tumenggung (pemimpin suku) dari Suku Anak Dalam, dan ketika ditanyakan apakah mereka siap jika dibuatkan tempat tinggal yang tetap, mereka menjawab siap. Suku Anak Dalam sendiri diketahui memang hidup dengan cara berpindah-pindah.

    Khofifah menambahkan, pemerintah daerah setempat juga menyatakan komitmennya untuk menyukseskan program ini. Sebelumnya, Kementerian Sosial juga  telah menyiapkan rumah untuk Suku Anak Dalam di wilayah Kabupaten Merangin. Selain di Merangin, juga disiapkan di wilayah Kabupaten Sarolangun.

    Namun kondisi di Sarolangun berbeda dengan di Merangin, Suku Anak Dalam di sana sudah dibuatkan rumah pada 2013, tapi tidak ditempati. "Saya tanya kenapa, mereka bilang karena saya seminggu di hutan, seminggu di sini (rumah), artinya belum bisa dijadikan tempat tinggal tetap," kata Khofifah.

    Khofifah menceritakan bagaimana saat ia bertemu dengan anak-anak Suku Anak Dalam di Sarolangun, ia bertanya apa cita-cita mereka, dan mereka menjawab macam-macam seperti menjadi tentara, peneliti, dan lainnya. "Saya bilang ini harus sekolah formal, enggak bisa tinggal di hutan, enggak bisa hanya sekedar bisa calistung (baca tulis hitung)" tuturnya.

    DIKO OKTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.