Kebakaran Hutan, Pemerintah Intensifkan Operasi Hujan Buatan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pilot, copilot dan kru pesawat berdoa sebelum melakukan penerbangan peluncuran Teknologi Modifikasi Cuaca (hujan buatan) dengan membawa bahan semai sebanyak 2,8 ton menggunakan pesawat CN-A 2901 TNI AU, di Bandar Udara Militer Halim Perdanakusuma, Jakarta, 25 Agustus 2015. Pemanfaatan Teknologi Modifikasi Cuaca untuk penanggulangan kekeringan yang berlangsung selama 90 hari di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat. TEMPO/Imam Sukamto

    Pilot, copilot dan kru pesawat berdoa sebelum melakukan penerbangan peluncuran Teknologi Modifikasi Cuaca (hujan buatan) dengan membawa bahan semai sebanyak 2,8 ton menggunakan pesawat CN-A 2901 TNI AU, di Bandar Udara Militer Halim Perdanakusuma, Jakarta, 25 Agustus 2015. Pemanfaatan Teknologi Modifikasi Cuaca untuk penanggulangan kekeringan yang berlangsung selama 90 hari di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO , Jakarta: Pemerintah mengintensifkan operasi hujan buatan untuk mempercepat dan meningkatkan intensitas hujan. Upaya ini dilakukan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan.

    "Presiden Joko Widodo telah memerintahkan hujan buatan ditingkatkan saat banyak awan seperti sekarang. TNI AU akan mengirim pesawat Hercules C-130 untuk hujan buatan," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo dalam rilisnya, Sabtu, 31 Oktober 2015.

    Kombinasi hujan buatan dan hujan alam yang turun cukup merata di Sumatera dan Kalimantan selama 26-30 Oktober 2015 menyebabkan kondisi membaik. Semua indikator seperti jumlah hotspot, jarak pandang dan kualitas udara, katanya, menunjukkan kondisi yang membaik secara signifikan.

    Saat ini, ada 4 pesawat terbang untuk melakukan penyemaian awan, yaitu 3 pesawat Casa dan 1 pesawat CN-295 yang ditempatkan di Pekanbaru, Palembang, Pontianak dan Palangkaraya. "Total 284,9 ton garam (NaCl) yang ditaburkan ke dalam awan sejak Juni hingga sekarang," kata dia.

    Garam dapur (NaCl) bersifat higroskopis yang menyerap butir-butir air dalam awan sehingga bertambah besar ukurannya. Adanya proses tumbukan dan penggabungan di dalam awan menyebabkan turunnya hujan.

    Sutopo menjelaskan bahwa jumlah hotspot pada Sabtu 31 Oktober 2015 hanya 402 hotspot, padahal pada 24 Oktober terdapat 2.218 hotspot. "‎Begitu pula jarak pandang, jika sebelumnya rata-rata kurang dari 500 m, namun saat ini sudah menjauh," katanya.

    Tercatat pada hari Sabtu ini jarak pandang di Padang mencapai 4 km, Pekanbaru 7 km, Jambi 2,8 km, Palembang 800 m, Pontianak 2 km, Palangkaraya 1,5 km, dan Banjarmasin 6 km.

    Indeks kualitas udara  (PM10) yang sebelumnya banyak kota sering level berbahaya, pada hari Sabtu, kota-kota di Sumatera dan Kalimantan berada pada level baik-sedang.

    Saat ini hujan buatan terus dilakukan BPPT, BNPB, TNI AU dan KLHK. Sesuai dengan prediksi BMKG bahwa 26-31 Oktober 2015, hujan dan awan-awan potensial banyak di Sumatera dan Kalimantan.

    ARKHELAUS WISNU



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?