Sartono, Pencipta Lagu Hymne Guru, Dirawat di ICU RSUD Madiun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sartono (76) pencipta Hymne Guru (Pahlawan Tanpa Tanda Jasa). ANTARA/Siswowidodo

    Sartono (76) pencipta Hymne Guru (Pahlawan Tanpa Tanda Jasa). ANTARA/Siswowidodo

    TEMPO.CO, Madiun - Sartono, 79 tahun, pencipta lagu Hymne Guru, dirawat di ruang Intensif Care Unit Rumah Sakit Umum Daerah Kota Madiun, Jawa Timur, karena mengalami komplikasi, di antaranya gejala stroke, jantung, kencing manis, dan penyumbatan pembuluh darah di otak.

    "Sejak kemarin sore, statusnya koma," kata Kepala Perawat Ruang ICU RSUD Kota Madiun Atri Laksono, Sabtu, 31 Oktober 2015.

    Dalam kondisi koma, ucap Atri, refleks nyeri dan mata berkedip serta kemampuan berkomunikasi pada organ tubuh Sartono sudah tidak lagi berfungsi. Pasien ini juga tidak bisa makan atau minum. Karena itu, pihak RSUD memasukkan nutrisi langsung ke perut pasien dengan menggunakan slang.

    Pemasangan slang itu dilakukan Jumat siang, 30 Oktober 2015, lantaran kondisi Sartono kian menurun setelah dirawat sejak Selasa lalu. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, pria yang tinggal di Jalan Halmahera, Kelurahan/Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, ini menderita sejumlah penyakit.

    "Awal masuk ke sini diketahui gejala stroke. Yang terbaru, terjadi penyumbatan pembuluh darah di otak," ujar Atri

    Ignatia Damijati, 65 tahun, istri Sartono, menuturkan Sartono mulai menunjukkan tanda-tanda sakit pada Sabtu, 17 Oktober 2015. Saat itu suaminya tidak mau makan dan merasakan sakit pada lengan kirinya. "Dua hari sebelumnya, beliau terjatuh dari ranjang tempat tidur," katanya.

    Karena kondisi Sartono semakin menunjukkan gejala memburuk, pihak keluarga membawanya ke RSUD. Sartono pertama kali dirawat di Ruang ICU kemudian dipindah ke Paviliun Cendana. Karena kondisinya kembali menurun, Sartono dipindah lagi ke Ruang ICU pada Jumat kemarin.

    NOFIKA DIAN NUGROHO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Akar Bajakah Tunggal, Ramuan Suku Dayak Diklaim Bisa Obati Kanker

    Tiga siswa SMAN 2 Palangka Raya melakukan penelitian yang menemukan khasiat akar bajakah tunggal. Dalam penelitian, senyawa bajakah bisa obati kanker.