Kabut Asap dan Kebakaran Hutan, Satwa pun Terancam Punah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Orang utan beraktivitas di tengah kabut asap yang menyelimuti areal hutan sekolah Orang utan Yayasan Penyelamatan Orang utan Borneo (BOSF) di Arboretum Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, 5 Oktber 2015. Kabut asap diakibatkan dari kebakaran lahan dan hutan. ANTARA FOTO

    Orang utan beraktivitas di tengah kabut asap yang menyelimuti areal hutan sekolah Orang utan Yayasan Penyelamatan Orang utan Borneo (BOSF) di Arboretum Nyaru Menteng, Kalimantan Tengah, 5 Oktber 2015. Kabut asap diakibatkan dari kebakaran lahan dan hutan. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Jakarta - Kebakaran hutan mengubah perilaku satwa. Pakar kodok dan reptil dari Institut Teknologi Bandung, Joko Iskandar, mengatakan perubahan perilaku satwa tersebut bisa berujung pada menurunnya populasi hingga kepunahan. Terutama pada jenis satwa yang berumur pendek, seperti jenis kodok tertentu dan serangga.

    Joko mengemukakan hal itu berdasarkan pengalamannya. Pada Agustus 1997, ketika terjadi kebakaran hutan di Kalimantan, ekspedisi riset bersama peneliti dari Malaysia di Taman Nasional Betung Kerihun, Kalimantan Barat, dekat dengan perbatasan Serawak, Malaysia, terpaksa dihentikan. Sebab, selama tiga bulan, tim yang di antaranya terdiri atas peneliti kodok dan reptil, burung, mamalia, serta primata sulit menemukan satwa incarannya.

    Lokasi riset yang ditempuh selama tiga hari dengan naik kapal boat dari Entikong hanya berjarak pandang 15 meter. "Padahal jaraknya dari lokasi kebakaran hutan sekitar 100 kilometer," ucap Joko di gedung Balai Pertemuan Ilmiah ITB, Jumat, 30 Oktober 2015.

    Menurut Joko, saat itu sinar matahari sulit menembus lokasi riset mereka. Buktinya, pakaian yang mereka cuci dan dijemur selama tiga hari tak bisa kering, sehingga mereka terpaksa memakai pakaian lembap. Joko, yang ingin meneliti katak dengan waktu terbaik pada malam hari, tak mendapat tanda-tanda kehadiran katak. "Selama satu bulan di sana, tidak terdengar suara katak," ujarnya.

    Tim lain pun mengalami hal serupa. Tak ada burung yang bisa diamati. Kelelawar pun tak muncul. Primata, seperti kera, beruk, dan lutung, memilih diam di tempat tertentu. Untuk makan, mereka hanya menjangkau tumbuhan terdekat, tidak menjelajah seperti biasanya. Suara primata juga tidak terdengar.

    Perubahan alam akibat kabut asap kebakaran hutan itu, menurut Joko, juga mengganggu proses berkembang biaknya satwa. Bulan yang juga sulit terlihat mengganggu perkembangbiakan kodok. "Untuk jenis kodok yang umurnya hanya sebulan, populasinya bisa turun," tuturnya. Begitu pun jenis serangga yang berusia satu-dua bulan.

    Setelah tiga bulan berjalan, ekspedisi riset akhirnya dihentikan. Setelah itu, Joko tidak pernah lagi ke sana. Menurut Joko, kebakaran hutan itu tidak hanya berdampak pada manusia, tapi juga mengancam keanekaragaman hayati.

    "Kami ke sana faktanya begitu. Mungkin ini fenomena yang tidak terpikirkan orang," kata Joko. Kemungkinan lain, perlu dana besar untuk ekspedisi penelitian lanjutan atau berkala tahunan, karena penelitiannya berjangka panjang.

    ANWAR SISWADI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.