Kabut Asap, Bayi Tiga Bulan Ini Meninggal Akibat ISPA

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kendaraan berjalan pelan menembus kabut asap yang menyelimuti Jalan Lingkar Selatan, Paal 10, Jambi, 7 September 2015. Sumatera Selatan masih menjadi daerah penyumbang titik panas terbanyak, yakni 22 titik. Disusul Jambi sebelas titik, Sumatera Utara dua titik, Bangka Belitung satu titik, Sumatera Barat satu titik, dan Aceh satu titik. ANTARA/Wahdi Septiawan

    Kendaraan berjalan pelan menembus kabut asap yang menyelimuti Jalan Lingkar Selatan, Paal 10, Jambi, 7 September 2015. Sumatera Selatan masih menjadi daerah penyumbang titik panas terbanyak, yakni 22 titik. Disusul Jambi sebelas titik, Sumatera Utara dua titik, Bangka Belitung satu titik, Sumatera Barat satu titik, dan Aceh satu titik. ANTARA/Wahdi Septiawan

    TEMPO.CO, Palembang - Korban bencana kabut asap di Sumatera Selatan terus bertambah. Bilfaqi Arka Alteza, bayi 3 bulan 24 hari ini mengembuskan napas terakhirnya setelah didiagnosis mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), Kamis, 29 Oktober 2015.

    Erwin Soleh, ayah Arka, menuturkan anaknya sempat dikira hanya mengalami flu biasa. Karena anaknya sempat mengalami batuk dan pilek sama halnya dengan banyak tetangganya. "Kami tidak menyangka sakit tersebut berujung pada kematian. Seminggu lalu sempat dibawa ke klinik (perusahaan)," kata Erwin setelah prosesi pemakaman Arka di TPU Kamboja, Palembang, Jumat, 30 Oktober 2015.

    Namun seusai pemeriksaan itu, Arka dibawa pulang ke rumah. Kondisi Arka tak membaik seusai mendapat obat dari klinik. Erwin menambahkan, tarikan napas anaknya makin berat dan suaranya terdengar makin kecil. "Saya meminta surat rujukan ke dokter spesialis anak di rumah sakit di Palembang," ujar Erwin.

    Rabu, 27 Oktober 2015, menurut Erwin, Novi Irma Yulianti, istrinya membawa bayinya itu ke Palembang sesuai surat rujukan klinik perusahaan. Baru pada Kamisnya, Arka mendapat perawatan. Belum genap 24 jam mendapatkan perawatan, Arka meninggal dunia. "Meninggalnya semalam pukul 19.25," ujar Erwin.

    Sementara itu, Novi menuturkan anaknya tidak pernah mengalami sakit parah sebelumnya. Sehingga ia kaget mendengarkan jika anak itu terkena ISPA stadium lanjut. Menurut Novi, selama hampir empat bulan merawat anaknya itu, Arka termasuk anak yang aktif dan kuat dalam mengkonsumsi susu formula. "Tidak punya riwayat penyakit apa pun," kata Novi.

    Menurut Novi, gejala awalnya, selain susah bernapas anaknya susah tidur dan menjadi rewel. Nafsu makannya juga menjadi berkurang sehingga berat badan Arka turun 500 gram.

    Pekan lalu, berat badan anaknya masih 5,5 kilogram. "Anaknya jadi rewel sering nangis-nangis," kata Novi. Seusai pemakaman, malam ini akan ada pengajian yang digelar keluarga dan juga para tetangga.

    PARLIZA HENDRAWAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.