Kebakaran Hutan, Pemerintah Kaji Beli Pesawat Waterbombing  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Helikopter MI 17 dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjatuhkan bom air di atas lahan yang terbakar di Payung Sekaki, Pekanbaru, Riau, 24 Juli 2014. ANTARA/FB Anggoro

    Helikopter MI 17 dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjatuhkan bom air di atas lahan yang terbakar di Payung Sekaki, Pekanbaru, Riau, 24 Juli 2014. ANTARA/FB Anggoro

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Sutopo Purwo Nugroho mengatakan Presiden Joko Widodo berencana membeli pesawat waterbombing untuk mengatasi kebakaran hutan. "Kemarin Presiden mengatakan pemerintah mendorong agar membeli pesawat dan helikopter yang dapat melakukan waterbombing," katanya di Graha BNPB Jakarta, Jumat, 30 Oktober 2015.

    Sutopo mengatakan saat ini sedang ada kajian untuk rencana tersebut. "Indonesia butuh pesawat yang tidak hanya untuk kebakaran, tapi juga operasi SAR, misalnya," ujarnya.

    Sutopo melanjutkan, rencana pembelian pesawat ini juga membutuhkan sejumlah pertimbangan. "Sedang ada assessment jumlah dan tipe pesawat karena juga harus menyesuaikan dengan keuangan negara. Kita memang butuh pesawat dan helikopter seperti itu," tuturnya.

    Selain itu, kata Sutopo, perlu diwacanakan agar perusaahan pengelola lahan memiliki pesawat atau helikopter waterbombing sendiri. "Karena dalam peraturan, mereka bertanggung jawab atas lahannya. Kalau kebakaran, mereka bertanggung jawab memadamkan," tuturnya.

    Sebelumnya, banyak pihak, seperti Greenpeace Indonesia, menganggap bahwa pemerintah tidak mau belajar dari pengalaman untuk mengatasi bencana asap yang terjadi hampir setiap tahun. Kasus kebakaran lahan telah terjadi sejak 18 tahun lalu dan terus terulang.

    ARKHELAUS WISNU


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.