Ada Alat Atasi Dampak Kabut Asap, Mau Tahu?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sisa asap usai dipadamkan menyisakan api dari dalam tanah gambut di kawasan hutan Gunung Lawu, Cemoro Sewu, Jawa Timur, 26 Oktober 2015. Bram Selo Agung/Tempo

    Sisa asap usai dipadamkan menyisakan api dari dalam tanah gambut di kawasan hutan Gunung Lawu, Cemoro Sewu, Jawa Timur, 26 Oktober 2015. Bram Selo Agung/Tempo

    TEMPO.CO, Padang - Guru besar biokimia di Institut Teknologi Bandung, Zeily Nurachman, menciptakan alat yang dinamakan Bunker Perlindungan Asap untuk mengurangi dampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan.

    Uji coba alat ini pertama kali dilakukan Zeily di Sekolah Dasar Negeri Percobaan, Jalan Ujung Gurung Kota Padang, Sumatera Barat.

    Zeily mengaku alat ini dipasang di sekolah untuk menghindari siswa dari dampak kabut asap. Sebab, asap sangat rentan terhadap anak-anak.

    Peralatan yang harus disiapkan adalah akuarium, aerator atau alat penghasil gelembung udara dalam air, dan mikroalga "Tiga bahan itu digunakan untuk menyerap karbondioksida dalam ruang kelas," ujarnya saat dihubungi Tempo, Kamis, 29 Oktober 2015.

    Konsepnya, ucap Zeily, mikroalga dimasukkan ke dalam akuarium berisi air yang sudah dipasangi alat penghasil gelembung udara agar menghasilkan oksigen secara alami dan alga akan memakan partikel-partikel debu tersebut. Kemudian ventilasi ruangan ditutup dengan kain filter yang sudah disemprot air basa atau air kapur, supaya udara di luar tidak banyak yang masuk ke dalam ruangan.

    Zeily menyarankan agar memasang dua kipas angin. Fungsinya, menyaring debu. "Yang penting itu menyalakan lampu neon dengan sempurna. Supaya siswa mendapatkan cahaya yang cukup dalam ruangan yang ditutupi kain filter," tuturnya.

    Menurut dia, air di dalam akuarium itu akan berwarna hijau apabila partikel debu dalam ruangan pekat.

    Air di dalam akuarium itu bisa diganti. Namun hanya 80 persen. Sebab, 20 persen air di dalam akuarium itu merupakan bibit mikroalga.

    Alhasil, alat yang dibuat Zeily terbukti berhasil mengurangi konsentrasi aerosol atau partikel debu (PM10) di dalam kelas.

    Saat pemasangan tersebut, di halaman sekolah tersebut indikator PM10-nya menunjukkan kadar 180 mikrogram per meter kubik. Sedangkan di dalam kelas yang dipasangi alat itu indikator PM10-nya berada pada angka 70-80 mikrogram per meter kubik.

    Menurut dia, bungker perlindungan asap ini bisa diduplikasi untuk sekolah lain di Sumatera Barat dan daerah-daerah yang terdampak kabut asap. Apalagi alat ini bisa dipasang siapa pun dengan harga murah.

    "Silakan ini dibuat di kelas dan rumah. Masyarakat juga berkreasi dalam membuat alat tersebut," ujarnya. Misalnya, dengan mengisi ikan ke dalam akuarium.

    ANDRI EL FARUQI



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.