Redam Asap, JK Minta KSAU Siapkan Hujan Buatan Lagi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Lanskap gedung-gedung perkantoran dan permukiman penduduk di kawasan Jakarta Pusat, 27 Oktober 2015. Kepala Pusat Data Informasi BNPB menyatakan bencana asap yang melanda Sumatera dan Kalimantan makin meluas dan sebagian menuju Jakarta. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Lanskap gedung-gedung perkantoran dan permukiman penduduk di kawasan Jakarta Pusat, 27 Oktober 2015. Kepala Pusat Data Informasi BNPB menyatakan bencana asap yang melanda Sumatera dan Kalimantan makin meluas dan sebagian menuju Jakarta. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla memerintahkan Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Agus Supriatna ‎agar mempersiapkan hujan buatan untuk mengurangi dampak kebakaran hutan. Apalagi saat ini jumlah titik dengan potensi awan di Sumatera semakin bertambah.

    "Pak Wapres minta kami segera melaksanakan hujan buatan seperti kemarin," kata Agus di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Jumat, 30 Oktober 2015. Dia berencana akan berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.

    Berdasarkan data BMKG, ucap Agus, di langit Riau saat ini sudah ada potensi awan. "Kemarin juga kan sudah turun hujan selama lima jam di sana," ujarnya. Adapun di Jambi dan Palembang potensi awannya belum terlihat.

    Agus menuturkan saat ini TNI Angkatan Udara sudah menyiapkan tiga pesawat untuk melakukan operasi hujan buatan. Mengenai wilayah mana saja yang akan mendapatkan hujan buatan, dia mengatakan hal itu bergantung pada potensi awan dan arah angin. 

    Menurut dia, tiga pesawat sudah cukup untuk operasi hujan buatan saat ini. ‎Namun, dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2016, TNI mengajukan pembelian empat pesawat jenis BE 200 untuk memudahkan ‎pemadaman kebakaran hutan. 

    Selain menyiagakan empat pesawat untuk melakukan operasi hujan buatan, TNI AU menyiapkan lima pesawat Hercules dan lima pesawat jenis CN untuk evakuasi. "Tinggal tunggu perintah saja." 

    Agus mengakui, saat ini pemadaman dan hujan buatan menggunakan pesawat tak terlalu efektif . Sebab, titik api sudah mencapai ribuan. Hal ini diperparah dengan persediaan air yang harus diambil di laut yang jarak terdekatnya dari lokasi kebakaran sekitar 30 menit. Dalam sekali terbang, pesawat tersebut bisa mengangkut 12 ton air. "Kalau nanti pesawatnya banyak, tentu akan membantu. Sebelum titik api bertambah banyak, kita bisa lakukan pemadaman."

    FAIZ NASHRILLAH‎


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.