Ini Penyebab Pemerintah Selalu Gagal Tangani Kebakaran Hutan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Alat berat dioperasikan untuk membuat kanal blocking di kawasan Jembatan Nusa Tiga di Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, 30 September 2015. Presiden Joko Widodo memerintahkan pembangunan kanal blocking sepanjang 7 km di kawasan tersebut guna mencegah kebakaran hutan dan lahan secara efektif. ANTARA/Rosa Panggabean

    Alat berat dioperasikan untuk membuat kanal blocking di kawasan Jembatan Nusa Tiga di Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, 30 September 2015. Presiden Joko Widodo memerintahkan pembangunan kanal blocking sepanjang 7 km di kawasan tersebut guna mencegah kebakaran hutan dan lahan secara efektif. ANTARA/Rosa Panggabean

    TEMPO.CO, Jakarta - Greenpeace Indonesia menganggap pemerintah tak mau belajar terkait dengan penanganan kebakaran hutan yang menyebabkan kabut asap di beberapa wilayah, seperti Kalimantan dan Sumatera. Padahal kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia selalu terulang setiap tahun selama 18 tahun terakhir.

    "Kebakaran hutan di Indonesia sudah 18 tahun, tapi pemerintah belum juga bisa menanganinya," ujar anggota Forest Political Campaigner Greenpeace Indonesia, Muhammad Teguh Surya, Kamis, 30 Oktober 2015.

    Teguh menuturkan masalah kebakaran hutan di Indonesia sudah terjadi sejak 1997. Namun hingga 2015, meskipun titik api semakin banyak, penanganannya masih sama seperti sebelumnya. "Sumber masalahnya meluas, tapi upaya penanganannya sama, yaitu water bombing dan hujan buatan. Tapi selama 18 tahun upaya itu gagal," kata Teguh.

    Menurut Teguh, hingga saat ini, belum ada terobosan baru dari pemerintah dalam mengatasi kebakaran hutan dan kabut asap. Adapun Presiden Joko Widodo pernah memakai sistem sekat kanal pada akhir November lalu. Menurut Teguh, upaya tersebut berhasil diterapkan di Sungai Tohor, Riau.

    Namun cara ini belum diterapkan di daerah lain. "Tidak ada perintah spesifik dari Presiden untuk memperluas upaya baru tersebut," ucap Teguh. Jadi hanya wilayah sekitar Sungai Tohor yang tidak terbakar. Sedangkan wilayah lain tetap terbakar.

    Teguh berujar, selain penanganan, dibutuhkan konservasi atau pencegahan agar kejadian ini tidak berulang. "Februari tahun depan merupakan eskalasi kebakaran hutan dilihat dari titik apinya dalam lima tahun terakhir. Siapkah negara ini menghadapi bencana itu?" tutur Teguh.

    ARIEF HIDAYAT



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komponen Lokal Mobil Esemka Bima, Mesin Masih Impor dari Cina

    Mobil Esemka Bima 1.2 dan Bima 1.3. adalah dua model pikap yang diluncurkan oleh PT Solo Manufaktur Kreasi pada Jumat, 6 September 2019.