Peduli Hutan Indonesia, Delegasi UE Adopsi Aras dan Eropa  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bayi gajah Sumatera. TEMPO/Heri Juanda

    Bayi gajah Sumatera. TEMPO/Heri Juanda

    TEMPO.CO, Jakarta - Delegasi Uni Eropa (UE) di Jakarta kembali mengadopsi bayi gajah Sumatera yang lahir di Hutan Konservasi Tangkahan, Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) yang diberi nama Eropa.

    "Pemberian nama dan adopsi Eropa yang lahir pada 1 September 2015 ini menandai komitmen jangka panjang UE untuk menjaga keberlangsungan hutan di Aceh dan Sumatera Utara," kata Kepala Bagian Kerjasama Delegasi UE untuk Indonesia, Frank Viault, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis, 29 Oktober 2015.

    Pada awal 2015, Delegasi UE juga telah mengadopsi gajah muda bernama Aras yang membantu menjaga dan melindungi bagian timur KEL dan menjadi bagian dari Unit Patroli Gajah Aras Napal.

    Tujuan mengadopsi Aras adalah untuk menarik perhatian publik terhadap pentingnya konservasi dan meningkatkan kesadaran akan dampak perubahan iklim.

    "Pengadopsian bayi gajah bernama Eropa kali ini akan membantu memperkuat aspek lain yang juga penting di KEL," kata Duta Besar-designate Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Gurend.

    Aspek lain tersebut, yaitu kemitraan konservasi antara Hutan Konservasi Tangkahan dan masyarakat setempat, yang telah meninggalkan pembalakan liar dan beralih kepada ekowisata berkelanjutan.
    "Kami juga berharap pengadopsian ini akan membangkitkan kesadaran generasi muda mengenai bahaya dari perburuan gajah," tambah Vincent Gurend.

    Keputusan pemberian nama "Eropa" melambangkan dukungan UE dan pentingnya ekowisata. Hingga kini, mayoritas ekowisatawan asing yang mengunjungi Tangkahan berasal dari Eropa.

    Selain mengadopsi bayi gajah, UE juga berkontribusi sebesar lebih dari 50 juta Euro untuk melindungi dan menjaga keberlangsungan hutan-hutan di Aceh dan Sumatera Utara.

    Perburuan gajah yang umumnya mengincar gading mereka adalah permasalahan nyata di Sumatra.

    Sejumlah gajah di Sumatra telah dibunuh dalam beberapa bulan terakhir, termasuk gajah bernama Yongki, yang ditemukan mati tanpa gadingnya.

    Diperkirakan 80 persen habitat gajah Sumatera di hutan dataran rendah telah hilang dalam 25 tahun terakhir dan jumlah gajah liar Sumatera telah berkurang menjadi hanya 2.500 ekor akibat peningkatan konflik antara mereka dan masyarakat petani.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.