Kemendikbud: Anggaran Frankfurt Book Fair 2015 Masih Sisa

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Antrean Panjang di Paviliun Indonesia, Frankfurt Book Fair 2015. (Instagram/William Wongso)

    Antrean Panjang di Paviliun Indonesia, Frankfurt Book Fair 2015. (Instagram/William Wongso)

    TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan membantah tak transparan dan menghambur-hamburkan dana saat menjadi tamu kehormatan dalam ajang Frankfurt Book Fair 2015 di Jerman beberapa waktu lalu. “Bahkan anggaran yang kami keluarkan itu jauh lebih kecil dibanding negara lain,” tutur Sekretaris Jenderal Kementerian Didik Suhardi, Rabu, 28 Oktober 2015.

    Didik mengatakan anggaran yang digelontorkan pemerintah untuk festival internasional tersebut senilai 10 juta euro atau setara Rp 146 miliar. Jumlah tersebut, kata dia, jauh lebih kecil ketimbang negara lain saat menjadi tamu kehormatan festival. Bahkan, dia mengaku, tidak semua anggaran terserap dan masih tersisa.

    Saat ini pihaknya dengan transparan tengah merinci anggaran yang masih tersisa dari ajang Frankfurt Book Fair tersebut. Namun dia belum mengetahui secara pasti berapa sisa anggaran yang tidak digunakan.

    Selama di Jerman, dia menceritakan, pemerintah telah melakukan efisiensi anggaran semaksimal mungkin. Bahkan penunjukan budayawan Goenawan Mohamad sebagai Ketua Panitia Paviliun Indonesia juga berdasarkan seleksi yang diadakan komite yang ditunjuk Kementerian. “Beliau telah bekerja keras selama ini.”

    Hasilnya, selama sepuluh tahun terakhir, Indonesia berhasil menyabet penghargaan the best of lounge, bahkan dipuji oleh penyelenggara Frankfurt Book Fair. Untuk mendapatkan penghargaan itu biasanya sejumlah negara mengeluarkan anggaran yang jauh lebih besar.

    Karena itu, ia menepis anggapan sejumlah pihak yang menilai bahwa anggaran senilai Rp 146 miliar adalah bentuk pemborosan. Menurut dia, anggaran tersebut jauh lebih kecil dibanding dengan apa yang didapat Indonesia. Sebab, peradaban dan berbagai hal tentang Indonesia, khususnya terkait dengan budaya, mulai dikenal oleh mancanegara.

    Dalam pameran tersebut juga tidak hanya dipamerkan berbagai hasil karya tulis anak negeri, tapi berbagai karya sastra, seni, dan kebudayaan bangsa Indonesia. Dari pameran naskah kuno, kuliner, arsitektur, fotografi, hingga film. Sedikitnya 3 juta warga Jerman memadati Frankfurt Book Fair yang berjalan selama satu pekan itu.

    Kehadiran Indonesia di Frankfurt Book Fair 2015 dituding memboroskan anggaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Anggaran Rp 146 miliar dinilai terlalu besar untuk sekadar menjadi tamu kehormatan sebuah festival buku internasional.

    AVIT HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.