Korban Kabut Asap Dibolehkan Mengungsi ke Kota Bandung  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anak-anak bermain mobil-mobilan tanpa mengenakan masker di tengah kabut asap di alun-alun Komplek Stadion Utama Riau, Pekanbaru, 18 Oktober 2015. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru menyatakan kabut asap di sejumlah daerah di Provinsi Riau kembali menebal. TEMPO/Riyan Nofitra

    Anak-anak bermain mobil-mobilan tanpa mengenakan masker di tengah kabut asap di alun-alun Komplek Stadion Utama Riau, Pekanbaru, 18 Oktober 2015. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru menyatakan kabut asap di sejumlah daerah di Provinsi Riau kembali menebal. TEMPO/Riyan Nofitra

    TEMPO.CO, Bandung - Wali kota Bandung Ridwan Kamil membuka pintu serta mempersilakan warga Sumatera dan Kalimantan yang menjadi korban kabut asap untuk mengungsi ke Kota Bandung.

    "Kami tidak keberatan, bahkan kami menawarkan kalau ada yang mau (mengungsi)," kata Ridwan seusai upacara peringatan Sumpah Pemuda di Lapangan Tegalega, Kota Bandung, Rabu, 28 Oktober 2015.

    Lebih lanjut Ridwan mengatakan pihaknya akan mengupayakan tempat yang layak untuk para pengungsi korban asap. "Kalau memang ada yang mau ke sini dan jumlahnya signifikan, saya atur," ujarnya.

    Salah satu upaya yang akan dilakukan pria yang punya hobi bersepeda ini adalah mencarikan rumah-rumah kosong ataupun rumah milik warganya yang mampu menampung orang dalam jumlah banyak.

    "Nanti saya carikan rumah-rumah yang bisa menampung. Dulu saya pernah menawarkan rumah-rumah di Bandung mau menampung siswa-siswa Papua, dan ternyata yang daftar banyak," ujarnya.

    Keterbukaan ini, kata Ridwan, merupakan sebuah bentuk solidaritas antarwarga Indonesia. Ia juga menjamin tidak akan ada bentuk penolakan dari pihak mana pun. "Kota Bandung terbuka karena kita negara demokrasi dan NKRI. Orang Bandung mah bararageur," tuturnya.

    PUTRA PRIMA PERDANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.