Hujan Tak Kunjung Turun, Kekeringan di Bantul Kian Meluas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga memanggul air melewati bekas sawah dan kebun di Kampung Korehkotok, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, 29 Juli 2015. Kekeringan mulai meluas di Kabupaten Bandung Barat. TEMPO/Prima Mulia

    Warga memanggul air melewati bekas sawah dan kebun di Kampung Korehkotok, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, 29 Juli 2015. Kekeringan mulai meluas di Kabupaten Bandung Barat. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Bantul - Musim kemarau panjang yang terus berlangsung hingga akhir Oktober tahun ini telah berdampak pada makin luasnya kawasan krisis air di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Beberapa kawasan, yang dahulunya tidak masuk dalam daerah kekeringan, kini mulai mengajukan permintaan bantuan air bersih, seperti Desa Bawuran dan Desa Wonolelo di Kecamatan Pleret.

    Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Anton Vektori mengatakan pada 2014, dua desa tersebut tidak pernah mengajukan permintaan bantuan air ke BPBD Bantul. Dua desa itu sebenarnya tidak terlalu jauh dari aliran Sungai Opak yang melintasi Kabupaten Bantul, tapi sebagian wilayahnya memang berada di perbukitan. “Kena pengaruh kemarau yang lebih panjang dari biasanya,” kata Anton, Selasa, 27 Oktober 2015.

    BNPB Bantul kini mencatat ada 71 pedukuhan di 16 desa yang rutin meminta bantuan air bersih untuk menghadapi kekeringan. Kawasan kering yang semula tersebar di enam kecamatan pada pertengahan tahun, kini bertambah menjadi tujuh. Di antara kecamatan, yang sebagian wilayahnya meminta bantuan air secara rutin, ada di Dlingo, Imogiri, Pleret, Piyungan, Pajangan, Pundong, dan Kasihan.

    Saat ini, menurut Anton, persediaan stok bantuan air bersih yang dimiliki BPBD Bantul masih 50 tangki. Dengan kapasitas 5.000-an liter per tangki, cadangan suplai bersih itu diperkirakan bisa bertahan sampai akhir November. “Masih ada cadangan lain di PMI (Palang Merah Indonesia) Bantul dan Tagana (Taruna Siaga Bencana) Bantul,” kata Anton.

    Menurut dia, BPBD Bantul juga masih penunggu proses pengajuan permintaan bantuan tambahan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang difasilitasi BPBD DIY, untuk menghadapi kekeringan panjang pada tahun ini. Nilai pengajuan bantuan itu sekitar Rp 1,8 milyar. Hingga kini, menurut Anto, bantuan darurat kekeringan itu masih belum turun.

    Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Daerah Istimewa Yogyakarta memperkirakan hujan mulai datang pada pertengahan November mendatang. “Paling awal, hujan diperkirakan mulai datang di wilayah Sleman dan Kulonprogo bagian utara pada dasarian dua November (pertengahan bulan),” kata Staf Bagian Data dan Informasi BMKG DIY Etik Setyaningrum.

    Etik menjelaskan awal musim hujan diperkirakan datang secara bertahap di wilayah DIY dalam tiga tahap, yakni pertengahan dan akhir November serta awal Desember. Wilayah DIY bagian tengah, termasuk Kabupaten Bantul, diperkirakan menerima guyuran hujan pada pertengahan atau akhir November. Wilayah yang paling buncit didatangi hujan pada tahun ini ialah Gunungkidul bagian selatan.

    ADDI MAWAHIBUN IDHOM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dijen Imigrasi Ronny Sompie Dicopot Terkait Harun Masiku

    Pencopotan Ronny Sompie dinilai sebagai cuci tangan Yasonna Laoly, yang ikut bertanggung jawab atas kesimpangsiuran informasi kasus Harun.