Keuntungan Indonesia Jadi Tamu Frankfurt Book Fair  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pembukaan Frankfurt Book Fair 2015 di Jerman, 13 oktober 2015. TEMPO/Arif Zulkifli

    Pembukaan Frankfurt Book Fair 2015 di Jerman, 13 oktober 2015. TEMPO/Arif Zulkifli

    TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia menjadi tamu kehormatan Frankfurt Book Fair 2015 di Jerman, yang ditutup pekan lalu. Status tamu kehormatan itu membuat penulis dan penerbit Indonesia laris manis, seperti yang dialami penerbit Margin Kiri.

    Ronny Agustinus, Direktur Penerbit Margin Kiri, terlihat sibuk-hibuk selama Frankfurt Book Fair. Margin Kiri salah satu penerbit yang ikut berpameran di Paviliun Nasional Indonesia. “Saya baru saja berkumpul makan malam dengan penerbit kiri seluruh dunia, di Cafe Albatross di kawasan Kiesstrasse Bockenheim,” katanya, tatkala ditemui Tempo pada hari kedua Book Fair seperti dimuat Tempo edisi pekan ini.

    Margin Kiri dikenal sebagai penerbit buku progresif, menerbitkan buku perubahan sosial dan pemikiran kritis, baik terjemahan maupun karya penulis Indonesia. Buku terbitannya, antara lain, Politik Otentik: Manusia dan Kebebasan dalam Pemikiran Hannah Arendt karya Agus Sudibyo, Manusia Politik: Subyek Radikal dan Politik Emansipasi di Era Kapitalisme Global Menurut Slavoj Sizek karya Robertus Robert, atau Marhaen dan Wong Cilik: Membedah Wacana dan Praktek Nasionalisme bagi Rakyat Kecil dari PNI sampai PDI Perjuangan karya Retor A.W. Kaligis.

    Di Cafe Albatross itu, Ronny menceritakan bagaimana penerbit kiri berkenalan dan bertukar pikiran. Kepada Tempo, Ronny memperlihatkan daftar nama penerbit yang setelah itu ingin bertemu khusus dengan Margin Kiri, membicarakan peluang kerja sama. ”Lebih dari 15 penerbit ingin bertemu,” katanya.

    Di antaranya, penerbit terkenal seperti Gallimard (Prancis), Nao Editora (Brazil), Between The Lines Books (Toronto), New Vessel Press (Amerika), Modjaji Books (Cape Town, Afrika Selatan), Schavelzon Agencia (Spanyol), Unhrast Verlag (Jerman), dan empat penerbit buku radikal dari Inggris, yakni Zed Books,Verso, Pluto Press, dan New Internationalist. "Efek Indonesia menjadi guest of honour dan memiliki paviliun yang bagus menjadikan orang ingin tahu,” kata Ronny.

    Ia mengakui beberapa penerbit sudah mengarah ke kesepakatan. “Zed Books naksir membeli copyright buku terbitan kami, Kekerasan Budaya Pasca 1965 karya Wijaya Herlambang dan Ekofenomenologi: Mengurai Disekuilibrium Relasi Manusia dengan Alam karya dosen filsafat Universitas Indonesia, Saras Dewi.”

    Bukan hanya Margin Kiri yang beroleh peluang. Selama tiga hari, dari 14 sampai 18 Oktober di Frankfurt Book Fair, negosiasi terjadi antara sejumlah penerbit Indonesia dan penerbit luar. Ada sekitar 20 penerbit yang membuka stan di Paviliun Nasional, yang terletak di hal 4.0.

    Dari penerbit Trubus, Mizan, Gramedia, Kanisius, Rosda Karya, UGM Press, sampai UI Press. Sama dengan Margin Kiri, mereka mengakui dampak Indonesia sebagai tamu kehormatan terhadap kemungkinan penjualan copyright buku mereka cukup signifikan. "Kami sudah menandatangani MoU dengan penerbit Springer Jerman untuk penjualan copyright lima buku kami,” kata Kartini Nurdin, Ketua Pengurus Yayasan Obor. Lima buku itu, antara lain, bertema konflik Maluku, indeks kemandirian desa, dan ensiklopedi suku bangsa Indonesia.

    SENO JOKO SUYONO

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.