Warga Sumatera Barat Siapkan 25 Kamar untuk Korban Asap Riau

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah mesjid di pemukiman warga dikepung asap pekat kekuningan di kota Pekanbaru, Riau, 23 Oktober 2015.  Akibat kabut asap, jarak pandang menurun hingga 200 meter. TEMPO/Riyan Nofitra

    Sebuah mesjid di pemukiman warga dikepung asap pekat kekuningan di kota Pekanbaru, Riau, 23 Oktober 2015. Akibat kabut asap, jarak pandang menurun hingga 200 meter. TEMPO/Riyan Nofitra

    TEMPO.COPadang - Solidaritas Rakyat Sumatera Barat, yang diinisiasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Barat, menyediakan tempat pengungsian bagi korban kabut asap, terutama bagi kelompok rentan, seperti anak-anak, ibu-ibu hamil, dan warga lansia.

    "Saat ini sudah ada 6 rumah dan 3 kantor yang memiliki 25 kamar. Juga satu ruangan aula berukuran 8 x 4 meter yang kami sediakan untuk menampung korban bencana asap di Kota Padang," ujar Manajer Advokasi dan Kampanye Walhi Sumatera Barat Abdul Halim, Selasa, 27 Oktober 2015.

    Sebanyak 25 kamar itu berada di rumah warga, rumah kosong, dan kantor lembaga swadaya masyarakat. Mereka bersedia melayani korban asap dengan meminjamkan kamar tersebut. "Kamar yang kami sediakan itu bisa menampung 68 orang," ujarnya.

    Menurut Abdul, sejumlah fasilitas disediakan, seperti tempat tidur dan logistik. Selain di Kota Padang, kata Halim, ada beberapa warga Bukittinggi dan Medan yang menawarkan rumah penampungan. Namun, saat ini sedang diorganisasi Solidaritas Rakyat Sumatera Barat.

    Direktur Walhi Sumatera Barat Uslaini mengaku prihatin terhadap kondisi asap yang melanda beberapa provinsi di Sumatera, terutama Jambi dan Palembang. "Makanya kami akan menyediakan tempat untuk evakuasi ke wilayah yang lebih aman, seperti Kota Padang," ujar Uslaini, yang juga koordinator Solidaritas Rakyat Sumatera Barat.

    Menurut dia, meskipun turut diselimuti asap, kondisi Kota Padang tak separah di Riau. Asap di kota ini masih fluktuatif.

    Gerakan solidaritas korban pencemaran udara karena kabut asap ini memprioritaskan evakuasi bagi kelompok rentan, seperti anak-anak dan ibu-ibu hamil. Sebab, udara di Riau tak memungkin bagi mereka untuk terus bertahan.

    Apalagi, kata Uslaini, masyarakat tak mampu menyewa hotel. Mereka membutuhkan tempat pengungsian tanpa harus mengeluarkan biaya.

    Solidaritas Rakyat Sumatera Barat menggalang dukungan ini melalui media sosial. Mereka juga berkoordinasi dengan Walhi Riau dan masyarakat sipil setempat untuk bisa mengidentifikasi korban asap yang membutukan tempat pengungsian.

    Kantor bersama, AJI Padang, LBH Pers Padang, dan Lembaga Antikorupsi Integritas, bersedia menyediakan ruangan untuk korban asap yang akan mengungsi di Kota Padang. Kantor yang terletak di Jalan Ikhlas Nomor 16, Kota Padang, itu menyediakan dua kamar bagi korban bencana asap.

    "Ini kami lakukan sebagai bentuk solidaritas teradap korban asap yang terjadi berkepanjangan dan telah merenggut korban jiwa," ujar Direktur LBH Pes Padang Roni Saputra.

    Menurut dia, masyarakat yang akan mengungsi di sini bisa menggunakan fasilitas yang ada di kantor, seperti air bersih, toilet, kasur, serta peralatan untuk makan dan minum.

    ANDRI EL FARUQI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.