Hujan di Palangkaraya, Kenapa Kabut Asap Malah Menebal?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kabut asap yang menyelimuti Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 16 Oktober 2015. TEMPO/Uwidyanto

    Kabut asap yang menyelimuti Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 16 Oktober 2015. TEMPO/Uwidyanto

    TEMPO.CO, Palangkaraya - Hujan yang mengguyur Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, semalam ternyata tidak membuat kabut asap yang melanda kota ini berkurang. Malah kabut asap semakin tebal dan jarak pandang hanya berkisar 50-100 meter.

    “Kami memprediksikan dalam tiga hari ke depan Kalteng masih berpotensi hujan dengan kategori ringan dan sedang. Tapi kami tidak bisa mengetahui apakah hujan itu bisa mengurai asap atau tidak karena harus diketahui kedalaman air dalam lahan,” ujar Anton, petugas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Bandara Tjilik Riwut, kepada wartawan, Selasa, 27 Oktober 2015.

    Pantauan Tempo, hujan yang mengguyur Kota Palangkaraya pada Senin malam, 26 Oktober 2015, tergolong sedang dan tidak terlalu deras. Namun kabut asap yang pada pagi dan siang harinya menipis malah bertambah tebal. Akibatnya, masyarakat terpaksa kembali memakai masker dan menyalakan lampu kendaraan ketika keluar rumah.

    Berdasarkan data BMKG Bandara Tjilik Riwut, hujan terjadi di beberapa kabupaten dan kota tapi masih dalam kategori ringan dan sedang. Di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, curah hujan hanya 16 milimeter dan masuk dalam kategori ringan. Sedangkan Mura Teweh, Kabupaten Barito Utara, curah hujan hanya 5 milimeter dan masuk kategori ringan. Di Kota Palangkaraya, curah hujan 33 milimeter dan masuk kategori sedang.

    Komandan Satuan Kebakaran Hutan dan Lahan Kalimantan Tengah Kolonel Purwo Sudaryanto mengatakan hujan yang turun tadi malam di Kota Palangkaraya dan sekitarnya jelas tidak bisa memadamkan kebakaran lahan yang ada di Palangkaraya. “Hujan yang mengguyur tadi malam jelas membuat kabut asap bertambah tebal karena lahan gambut yang sangat tebal itu di bawahnya api berkobar dan secara otomatis jika diberi air sedikit malah menimbulkan asap,” katanya.

    Purwo mengatakan pihaknya akan terus melakukan pemadaman dengan menggunakan jalur udara dan darat, juga dilakukan penyemaian garam untuk membuat hujan buatan. “Kami terus berusaha semaksimal mungkin memadamkan kebakaran hutan dan lahan yang masih terjadi dan sejumlah bantuan terus berdatangan seperti adanya penambahan pesawat Hercules dari pihak swasta untuk ikut memadamkan kebakaran,” ujarnya.

    KARANA W.W.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.