Din Syamsuddin, Dari 'Presiden' Jadi 'Lurah' Muhammadiyah  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Din Syamsuddin saat hadir di Universitas Muhammadiyah Malang. Sumber foto : umm.ac.id KOMUNIKA ONLINE

    Din Syamsuddin saat hadir di Universitas Muhammadiyah Malang. Sumber foto : umm.ac.id KOMUNIKA ONLINE

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin, menyatakan jabatannya yang baru sebagai pemimpin ranting Muhammadiyah di Kelurahan Pondok Labu, Jakarta Selatan, merupakan hal yang biasa.

    "Hal seperti ini adalah biasa dan sering terjadi. Seseorang yang pernah mendapat amanat pada jajaran tertinggi organisasi, tapi pada periode setelahnya di jajaran lebih rendah," kata Din kepada Tempo, Senin, 26 Oktober 2015.

    Din mengatakan tidak bermasalah dengan jabatannya sebagai pemimpin yang hanya di tingkat kelurahan. "Ibaratnya, dari Presiden Muhammadiyah dua periode, kemudian jadi Lurah Muhammadiyah," katanya. "Bagi kami tidak masalah, yang penting di mana saja dapat berbuat untuk organisasi."

    Setelah menjabat sebagai ketua umum selama dua periode, dari 2005 hingga 2015, Din mengatakan masih punya kesempatan untuk menjabat sebagai pemimpin pusat, misalnya sebagai wakil ketua. Namun hal itu tidak dipilih dengan alasan bakal menutup peluang bagi tokoh Muhammadiyah lainnya.

    "Saya tidak mengembalikan formulir pencalonan dengan alasan memberi kesempatan kepada tokoh Muhammadiyah lain untuk ikut mengabdi lewat struktur organisasi," katanya.

    Din mengatakan peresmian ranting Muhammadiyah Pondok Labu akan diadakan pada November. "Peresmian ranting baru dan pengurus baru 18 November. Bertepatan dengan hari jadi Muhammadiyah ke-103," katanya.

    FRISKI RIANA

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.