Kalla Sebut Konferensi Gambut Cegah Upaya Saling Menyalahkan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jusuf Kalla. TEMPO/Imam Sukamto

    Jusuf Kalla. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan Konferensi Internasional tentang Gambut perlu digelar untuk menyamakan persepsi para ahli merestorasi gambut.

    Kalla tak ingin di masa depan ada yang saling menyalahkan terkait dengan langkah restorasi yang diambil pemerintah. "Perlu untuk memberikan pemahaman dan (mencari solusi) bagaimana yang benar untuk menyelesaikan restorasi gambut," ujar Kalla di kantornya, Senin, 26 Oktober 2015.

    Konferensi gambut akan mengundang pakar gambut dari seluruh universitas dan lembaga keilmuan di Indonesia.  Diundang juga pakar dari Kanada, Amerika Serikat, dan Finlandia.

    "Lahan gambut di sana juga kan luas-luas seperti di sini," kata Kalla. Kanada menempati ranking pertama sebagai daerah dengan lahan gambut terluas, disusul Amerika Serikat. Sedangkan, Indonesia menempati peringkat ketiga disusul Finlandia.

    Kalla mengatakan konferensi ini akan digelar secepatnya. "Supaya setelah itu, kita akan bekerja secara keras, cepat, mengerahkan seluruh potensi nasional untuk merestorasi gambut," kata dia.

    Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan restorasi lahan gambut tak mungkin berlangsung singkat. Ia memperkirakan restorasi baru terasa dampaknya tiga sampai lima tahun mendatang. Ditambah lagi, luas lahan gambut di Indonesia sangat luas.

    Program sekat kanal, kata Luhut, berhasil membasahkan lahan gambut sehingga api yang sudah berada di dalam lahan gambut bisa padam. Namun, sekat kanal baru dibangun di beberapa daerah sehingga kebakaran masih terus terjadi.

    Susahnya kebakaran dipadamkan, kata Luhut, disebabkan oleh dua hal. Pertama, lahan gambut luas. Kedua, kondisi cuaca. El Nino tahun ini, kata dia, lebih panjang dibanding El Nino pada 1997.

    "Sekarang upaya yang kita lakukan bukan lagi memadamkan api, tapi mengurangi risiko dampaknya. Ini akan kita lakukan sampai hujan turun," kata dia. Menurut Badan Meteorologi dan Geofisika, peluang hujan turun terbesar pada pekan ketiga atau keempat bulan ini.

    Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, sepuluh orang tewas dan 503.874 penduduk terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) serta 43 juta penduduk terpapar asap.

    Jumlah warga yang terserang ISPA itu tersebar di enam provinsi, yakni 80.263 orang di Provinsi Riau, 101.333 di Provinsi Sumatera Selatan, 129.229 di Provinsi Jambi, 43.477 di Provinsi Kalimantan Barat, 52.142 di Provinsi Kalimantan Tengah, dan 97.430 di Provinsi Kalimantan Selatan.

    TIKA PRIMANDARI


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.