Situs Purbakala di Gunung Penanggungan Tahan dari Kebakaran  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gunung Penanggungan. TEMPO/Abdi Purmono

    Gunung Penanggungan. TEMPO/Abdi Purmono

    TEMPO.CO, Mojokerto - Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan mengklaim kebakaran yang terjadi di Gunung Penanggungan, Mojokerto, Jawa Timur, tidak membahayakan situs yang banyak tersebar di lereng-lereng gunung tersebut, terutama candi.

    “Karena terbuat dari batu andesit, maka tahan dengan api,” kata Kepala Seksi Perlindungan, Pemanfaatan, dan Pengembangan BPCB Trowulan Edhi Widodo pada Senin, 26 Oktober 2015.

    Widodo mengatakan BPCB memiliki sejumlah juru pelihara (Jupel), yang dalam waktu tertentu mengecek kondisi situs-situs. “Jupel kami rutin mengecek kondisi situs dan menjaga ancaman dari pencurian,” katanya.

    Hingga kini, BPCB Trowulan mencatat 48 candi ukuran kecil yang tersebar di lereng-lereng Gunung Penanggungan. Selain candi, terdapat gerbang dan terakota.

    Karena berusia tua dan lokasinya sulit dijangkau, banyak bangunan candi kecil yang berserakan dan hanya tinggal reruntuhan batu, yang tidak lagi berbentuk candi. Hanya sebagian kecil bentuk candi yang masih bisa dipertahankan bentuknya.

    Selain dibangun pada masa Majapahit akhir, candi-candi tersebut diperkirakan sudah ada sejak zaman Raja Airlangga, pendiri Kerajaan Kahuripan di abad ke-11 Masehi, jauh sebelum Kerajaan Majapahit ada di abad 13-15 Masehi.

    Penanggungan dianggap sebagai gunung suci bagi penganut Hindu dan Buddha. Dalam kepercayaan Hindu Majapahit, puncak Gunung Penanggungan dianggap menyerupai puncak Gunung Mahameru di India sehingga Penanggungan dijadikan tempat pertapaan dan pemujaan oleh penganut Hindu Majapahit.

    Karena banyak terdapat peninggalan purbakala, Penanggungan ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Provinsi (KSP) Bidang Cagar Budaya dan Ekologi Lingkungan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

    Salah satu pendaki dan pecinta alam, Yahya Setianto, mengakui jika di Penanggungan banyak terdapat situs. “Selain melakukan konservasi alam, kami juga ikut menjaga agar situs-situs itu tidak disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” kata warga yang juga pengelola posko pendakian di Desa Tamiajeng, Kecamatan Trawas, Mojokerto.

    Yahya juga termasuk aktivis Save Pawitra--nama lain dari Gunung Penanggungan--yang menolak pembangunan paving block di lereng Penanggungan oleh Pemkab Mojokerto. “Selain bisa merusak ekosistem alam, pembangunan paving block akan memudahkan akses pencurian situs purbakala,” ujarnya.



    ISHOMUDDIN


     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?