Kantor Dinas Dijadikan Rumah Singgah Buat Korban Asap

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pelajar melintas di depan Monumen Pembangunan Tambun Bungai yang masih diselimuti asap pekat di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 3 Oktober 2015. Berdasarkan data BMKG, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Palangkaraya menunjukkan konsenrasi partikulat PM10 mencapai angka 1917.22 mikrogram per meter kubik, sementara batas berbahaya berada di angka 350. ANTARA/Rosa Panggabean

    Pelajar melintas di depan Monumen Pembangunan Tambun Bungai yang masih diselimuti asap pekat di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 3 Oktober 2015. Berdasarkan data BMKG, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Palangkaraya menunjukkan konsenrasi partikulat PM10 mencapai angka 1917.22 mikrogram per meter kubik, sementara batas berbahaya berada di angka 350. ANTARA/Rosa Panggabean

    TEMPO.CO, Palangkaraya - Pemerintah Kalimantan Tengah menggunakan kantor pemerintahan sebagai rumah singgah bagi penduduk yang membutuhkan perawatan akibat asap kebakaran hutan. Beberapa kantor yang dijadikan rumah singgah yakni kantor Dinas Sosial, Dinas Perkebunan, dan Dinas Kehutanan.

    Saat ini pemerintah telah menyediakan tujuh rumah singgah, termasuk dua puskesmas. Di rumah singgah tersedia beragam fasilitas seperti penyejuk udara, alat untuk mengubah udara kotor menjadi udara bersih (air purifier), tabung oksigen dan sejumlah obat-obat untuk keperluan masyarakat.

    "Kami akan terus berupaya melengkapi sarana dan prasarananya," kata Kepala Dinas Sosial Kalteng Guntur Talajan,Senin 26 Oktober 2015. Menurut Guntur, kantor-kantor dinas itu diberdayakan karena pelayanan bagi korban asap tak cukup bila hanya mengandalkan Puskesmas Tangkiling dan Kalampangan di Palangkaraya.

    Berdasarkan pantauan Tempo, tampak anak-anak menggunakan fasilitas tabung oksigen di rumah singgah di Jalan Rayawali VII yang menggunakan Kantor Dinas Sosial Kalimantan Tengah.  Amelia (33) mengatakan setiap hari membawa anaknya yang berusia 4 tahun. Anaknya yang terkena asma akibat terpapar asap kebakaran menghirup udara lewat tabung oksigen di rumah singgah.  "Kalau harus ke puskesmas lumayan jauh dari rumah,"katanya.

    Amelia tak membawa keluarganya tinggal di rumah singgah dan memilih tetap tinggal di rumah keluarganya. Alasannya dia dan suaminya harus tetap berjualan di pasar. 

    KARANA WW


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sebab dan Pencegahan Kasus Antraks Merebak Kembali di Gunungkidul

    Kasus antraks kembali terjadi di Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Mengapa antraks kembali menjangkiti sapi ternak di dataran tinggi tersebut?