Kabut Asap Menipis, Penerbangan di Samarinda Kembali Normal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana Sungai Kahayan yang berselimut kabut asap di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 3 Oktober 2015. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia menemukan bahwa dari Januari hingga September 2015, ada 16.334 titik panas (berdasarkan LAPAN) atau 24.086 (berdasarkan NASA FIRM) yang tersebar di lima provinsi yaitu Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan dan Riau. ANTARA/Rosa Panggabean

    Suasana Sungai Kahayan yang berselimut kabut asap di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 3 Oktober 2015. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia menemukan bahwa dari Januari hingga September 2015, ada 16.334 titik panas (berdasarkan LAPAN) atau 24.086 (berdasarkan NASA FIRM) yang tersebar di lima provinsi yaitu Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan dan Riau. ANTARA/Rosa Panggabean

    TEMPO.CO, Samarinda - Hujan lebat yang mengguyur Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Senin dinihari, 26 Oktober 2015, membuat kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan berkurang. Kepala Seksi Pelayanan dan Kerja Sama Bandara Temindung Samarinda Imam Asnawi mengatakan berkurangnya kabut asap tersebut membuat aktivitas penerbangan kembali normal.

    “Pagi tadi jarak pandang sudah normal yaitu 5.000 meter,” kata Imam, Senin, 26 Oktober 2015. Menurut dia, termasuk penerbangan dari Samarinda menuju Balikpapan juga sudah normal.

    Menurut dia, penerbangan yang masih terkendala hanya untuk tujuan Bandara Data Dawai, Kabupaten Kutai Barat. Hingga sat ini bandara sudah membatalkan beberapa penerbangan karena gangguan kabut asap di Kutai Barat. "Kabarnya di sana jarak pandang masih 1.000 meter," kata dia.

    Sementara pesawat tujuan Samarinda semuanya bisa mendarat dengan aman. "Di Berau sudah normal juga, pukul 08.00 Wita pesawat Kal Star dari Berau sudah mendarat di Samarinda," katanya.

    Kabupaten Kutai Barat secara geografis berbatasan dengan Kalimantan Tengah. Diduga, kabut asap di daerah itu merupakan kiriman dari daerah lain.

    FIRMAN HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.