Publik Lebih Percaya TNI dan KPK Ketimbang Jokowi dan DPR

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja berbicara pada diskusi di kantor Indonesian Corruption Watch (ICW) didampingi perwakilan dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Philips J. Vermonte (Kiri), Ade Irawan (Kedua Kanan), dan moderator Abdullah Dahlan (Kanan), Jakarta, Jumat (7/9). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Wakil Ketua KPK Adnan Pandu Praja berbicara pada diskusi di kantor Indonesian Corruption Watch (ICW) didampingi perwakilan dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Philips J. Vermonte (Kiri), Ade Irawan (Kedua Kanan), dan moderator Abdullah Dahlan (Kanan), Jakarta, Jumat (7/9). TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Lembaga survei Center for Strategic and International Studies menyatakan Tentara Nasional Indonesia merupakan institusi yang paling dipercaya publik. Berdasarkan hasil sigi CSIS pada 14-21 Oktober 2015, sekitar 90 persen dari 1.183 responden percaya kepada TNI.

    “Ini buah dari reformasi terus-menerus terhadap TNI yang tidak mau berpolitik lagi,” kata peneliti CSIS Philip J. Vermonthe, saat rilis hasil survei di Hotel Atlet Century, MInggu, 25 Oktober 2015. Menurut Philip, kepercayaan masyarakat akan menurun kalau TNI kembali aktif berpolitik praktis.

    Posisi kedua diduduki Komisi Pemberantasan Korupsi. Tingkat kepercayaan masyarakat terhadap KPK sebesar 80,8 persen.

    Adapun Presiden Joko Widodo berada di posisi ketiga dengan hasil 79,7 persen. Berikutnya adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla 75,2 persen.

    Berbanding terbalik dengan KPK maupun TNI, Polri dan Dewan Perwakilan Rakyat mendapat posisi yang paling bontot. “Polisi dan DPR sangat rendah,” ujarnya. Tingkat kepercayaan terhadap Polri hanya 63,5 persen. Sedangkan kepercayaan masyarakat terhadap DPR hanya 53 persen.

    Masyarakat juga tidak puas dengan kinerja DPR. Dari total responden, hanya 29,2 persen yang puas dengan kinerja legislator itu. “Fungsi DPR dalam program legislasi nasional dianggap buruk,” kata Philip.


    LINDA TRIANITA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.