Kabut Asap, Kalteng Darurat 35 Ribu Tabung Oksigen  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pelajar berjalan di depan gedung sekolah yang diselimuti kabut asap di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 3 Oktober 2015. Berdasarkan data BMKG, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Palangkaraya menunjukkan konsenrasi partikulat PM10 mencapai angka 1917.22 mikrogram per meter kubik, sementara batas berbahaya berada di angka 350. ANTARA/Rosa Panggabean

    Pelajar berjalan di depan gedung sekolah yang diselimuti kabut asap di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 3 Oktober 2015. Berdasarkan data BMKG, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Palangkaraya menunjukkan konsenrasi partikulat PM10 mencapai angka 1917.22 mikrogram per meter kubik, sementara batas berbahaya berada di angka 350. ANTARA/Rosa Panggabean

    TEMPO.CO, Palangkaraya - Kabut asap yang terjadi di Provinsi Kalimantan Tengah hingga hari ini semakin pekat dan indeks pencemaran udara sudah pada level sangat berbahaya.

    Akibatnya, ribuan masyarakat Kalimantan Tengah terkena dampaknya, yakni terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Untuk mengatasi kekurangan oksigen, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah membagikan tabung asap ke rumah-rumah warga. Namun, pemerintah daerah Kalimantan Tengah sendiri tidak mempunyai persediaan tabung oksigen ukuran kecil (volume 500 cc). Kebutuhan akan tabung oksigen ini mencapai 35 ribu tabung untuk masyarakat Kalimantan Tengah di 14 kabupaten dan kota.

    “Kami sudah sering kali meminta kepada Kementerian Kesehatan. Namun, mereka mengaku saat ini mereka pun kehabisan stok,” kata Kepada Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah Suprastidja Budi, Sabtu, 24 Oktober 2015.

    Menurut Budi, kebutuhan akan oksigen untuk masyarakat Kalimantan Tengah di 14 kabupaten dan kota mencapai 35 ribu tabung oksigen. ”Pada September kami mengajukan 2.000 tabung tapi yang datang hanya 400 tabung oksigen. Kami kembali mengajukan pada bulan berikutnya 4.000 tabung tapi hingga saat ini tidak ada jawaban,” ujarnya.

    Untuk mengatasi kekurangan tabung oksigen itu pihaknya telah menempatkan beberapa tabung oksigen ukuran besar di beberapa lokasi rumah singgah, selain di rumah sakit dan puskesmas.

    “Memang saat kabut asap pekat seperti saat ini kebutuhan oksigen sangat tinggi, karena jika seseorang sudah merasakan mual, lemas, dan pusing maka ia sudah kekurangan oksigen,” tutur Budi.

    Untuk mengatasi kekurangan tabung oksigen, Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah saat ini memperbanyak rumah singgah yang dilengkapi dengan oksigen dan tim medis yang diperuntukan terutama bagi ibu hamil, bayi, dan lansia.

    KARANA W.W.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.