Mengapa Kabut Asap Tak Segera Ditetapkan Jadi Bencana Nasional?

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kabut pekat kekuningan menyelimuti Tugu Titik Nol di kota Pekanbaru, Riau, 23 Oktober 2015. Asap yang semakin pekat berwarna kekuningan menyelimuti Pekanbaru. TEMPO/Riyan Nofitra

    Kabut pekat kekuningan menyelimuti Tugu Titik Nol di kota Pekanbaru, Riau, 23 Oktober 2015. Asap yang semakin pekat berwarna kekuningan menyelimuti Pekanbaru. TEMPO/Riyan Nofitra

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah belum menyebut kabut asap sebagai bencana nasional. Menurut Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan, karena masih ada permasalahan hukum di balik peristiwa ini.

    "Kita tidak mau membicarakan tentang bencana nasional karena ini menyangkut masalah hukum. Tapi bisa kami pastikan penanganannya all out, mengerahkan segala sumber daya, sesuai perintah Presiden Joko Widodo," ujar Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Pandjaitan di Kemenkopolhukam, Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2015.

    Saat ini, menurut Luhut, penanganan asap masih dilakukan bersama antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Para pimpinan daerah pun diberikan hak untuk menentukan kapan penduduknya harus dievakuasi.

    Menurut Luhut, Kementerian Kesehatan sudah memberikan petunjuk kepada para gubernur untuk mengambil kebijakan-kebijakan perihal penyelamatan dan evakuasi warganya.

    Terkait dengan bencana nasional, beberapa lembaga swadaya masyarakat seperti Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) dan Center for International Forestry Research (CIFOR) menolak menyatakan kabut asap sebagai bencana, karena peristiwa itu terjadi akibat kesalahan manusia, bukan alam.

    Desakan penggaungan status bencana nasional dilakukan beberapa anggota DPR, seperti anggota Fraksi Partai Gerindra, Sutan Adil Hendra. Ia bahkan meminta DPR membentuk panitia khusus (pansus) terkait dengan asap.

    "Pemerintah harus segera menetapkan ini sebagai bencana nasional dan DPR membuat pansus karena pemerintah melakukan pembiaran terhadap bencana asap," kata Sutan.

    Pemerintah sendiri melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan, kebakaran hutan pada 2015, 90 persennya disebabkan manusia.

    Total luas wilayah yang menjadi sumber api di Sumatera dan Kalimantan 1,697 juta hektare wilayah milik 413 perusahaan.

    Dari jumlah tersebut, 227 merupakan perusahaan pemilik hak pengusahaan hutan/hutan tanaman industri dan 186 perusahaan perkebunan. Pemerintah pun tidak tinggal diam mengenai hal ini.

    Sebanyak 27 perusahaan telah dibuatkan berita acara pemeriksaan (BAP) dan 14 di antaranya dijatuhkan sanksi administrasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dalam bentuk paksaan pemerintah (desakan untuk melengkapi kekurangan sarana dan prasarana), pembekuan, maupun pencabutan izin.

    Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Selasa, 20 Oktober 2015, mencatat Kalimantan Tengah adalah daerah dengan indeks standar pencemar udara (ISPU) terburuk yaitu mencapai nilai 1.950 (pada 20 Oktober 2015), jauh di atas ambang berbahaya yang hanya 300-500.

    Provinsi Jambi pada tanggal yang sama, memiliki nilai ISPU 945. Sementara Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, dan Riau memiliki ISPU di atas 400.

    Sementara itu, berkaitan dengan penanganan asap, pemerintah mengalokasikan lima belas pesawat dari luar negeri untuk membantu pemadaman api dengan water bombing. Lima pesawat sudah masuk ke Indonesia sementara sepuluh unit pesawat lainnya akan datang dalam waktu maksimal dua pekan ke depan.

    Pemerintah pun selalu membuka diri terhadap bantuan yang ditawarkan negara-negara lain.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tahun-Tahun Indonesia Juara Umum SEA Games

    Indonesia menjadi juara umum pada keikutsertaannya yang pertama di SEA Games 1977 di Malaysia. Belakangan, perolehan medali Indonesia merosot.