Tragedi Gunung Lawu, Tetangga Korban Tewas Gelar Tahlilan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Personel TNI memotret kebakaran menggunakan kamera handphone di kawasan hutan Gunung Lawu, sisi Magetan, Jawa Timur, 22 Oktober 2015. ANTARA FOTO

    Personel TNI memotret kebakaran menggunakan kamera handphone di kawasan hutan Gunung Lawu, sisi Magetan, Jawa Timur, 22 Oktober 2015. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Ngawi - Warga Desa Beran, Ngawi, Jawa Timur, menggelar tahlilan dan doa bersama di rumah Sumarwan, 48 tahun, warga setempat yang tewas terbakar saat mendaki Gunung Lawu, Cemoro Sewu, Kecamatan Plaosan, Magetan.

    Tragedi yang terjadi pada Ahad lalu itu juga menewaskan Nanang Setia Utama, 16 tahun, anak sulung Sumarwan. Jenazah keduanya telah dikebumikan di Tempat Pemakaman Umum Kecamatan Karangjati, Ngawi, Selasa lalu.

    Adapun Novi Dwi Isti Wanti, 15 tahun, anak bungsu Sumarwan yang juga menjadi korban kebakaran hutan di Gunung Lawu, masih menjalani perawatan karena mengalami luka bakar di Rumah Sakit Umum Daerah dr Moewardi, Solo. "Rumah Pak Marwan kosong. Mbak Sumiyatun (istri Sumarwan) menunggui anaknya di Solo. Maka ibu-ibu patungan untuk membuat makanan dan minuman yang disajikan saat tahlilan," kata Wiwik, tetangga Sumarwan, Jumat, 23 Oktober 2015.

    Untuk membuat sajian saat tahlilan, ucap dia, ibu-ibu menyumbang beberapa bahan pokok, seperti beras, telur, tepung terigu, dan pisang. Bahan-bahan tersebut diolah untuk disajikan kepada puluhan warga yang ikut tahlilan dan doa bersama.

    Tahlilan dan doa bersama bagi Sumarwan dan keluarganya itu mulai digelar Senin malam lalu atau sehari setelah tragedi kebakaran Gunung Lawu. Beberapa jam setelah peristiwa terjadi dan Sumarwan dinyatakan sebagai salah satu korban, sejumlah warga Desa Beran memasang tenda.

    "Untuk membuka pintu harus didobrak, karena Mbak Tun pergi ke Magetan untuk memastikan informasi tentang korban," ucap Wiwik kepada Tempo.

    Seperti diberitakan sebelumnya, jasad tujuh korban kebakaran hutan Gunung Lawu berhasil dievakuasi dan dibawa ke kamar mayat RSUD dr Sayidiman, Magetan, sejak Ahad sore hingga Senin pagi. Tim Disaster Victim Identification (DVI) Kepolisian Daerah Jawa Timur telah mengidentifikasi enam identitas dari tujuh korban.

    Adapun satu jenazah lain belum bisa dipastikan identitasnya karena kondisinya hangus. Untuk dapat mengidentifikasi korban, tim DVI melakukan tes DNA yang membutuhkan waktu paling lama dua pekan.

    "Perlu dilakukan tes DNA. Kami sudah mengambil sampel DNA anggota keluarga yang datang ke sini (RSUD dr Sayidiman, Magetan) untuk dijadikan pembanding," tutur Ketua tim DVI Polda Jawa Timur.

    NOFIKA DIAN NUGROHO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.