Kabut Asap Makin Parah, Menkes Nila Imbau Sekolah Diliburkan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah siswa Sekolah Dasar membawa sejumlah poster saat aksi penggalangan dana untuk korban bencana kabut asap bersama relawan  Yayasan Dana Sosial al-Falah (YDSF) di depan stasiun Kota Malang, Jawa Timur, 16 Oktober 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Sejumlah siswa Sekolah Dasar membawa sejumlah poster saat aksi penggalangan dana untuk korban bencana kabut asap bersama relawan Yayasan Dana Sosial al-Falah (YDSF) di depan stasiun Kota Malang, Jawa Timur, 16 Oktober 2015. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan terjadi peningkatan indeks standar pencemaran udara (ISPU) di wilayah terpapar asap. “ISPU pada hari ini, Riau 370, Jambi 857, Sumatera Selatan 380, Kalimantan Barat 459, Kalimantan Selatan ini paling baik 78, dan Kalimantan Tengah 700,” ujar Nila di kantornya pada Kamis, 22 Oktober 2015.

    Kementeria Kesehatan juga melansir terjadi kenaikan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dalam seminggu terakhir. Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Kesehatan, Achmad Yurianto menyebutkan data yang diterima hingga akhir bulan September bahwa di Kalimantan Tengah terdapat 52.213 kasus. Selain itu di Riau tercatat ada 65.232 kasus, Jambi dari bulan Agustus tercatat 90.747 kasus, Sumatera Selatan dari Agustus hingga sekarang tercatat 101.332, di Kalimantan Barat terdapat 43.477 kasus dan 97.430 kasus di Kalimantan Selatan. “Dari seminggu terakhir kenaikan berkisar 500 orang perminggu,” ujar Achmad.

    Selain itu, sudah terdapat 10 korban meninggal akibat asap. Nila mengatakan akan melakukan upaya apapun sehingga tidak lagi ada korban yang meninggal. Ia juga menggandeng Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan perhimpunan dokter paru Indonesia untuk serius memberikan pelayanan kesehatan terutama kepada anak yang rentan terkena infeksi akibat asap.

    Nila menilai Kementerian Pendidikan harus mulai meliburkan kembali sekolah di daerah terpapar asap. Bahkan imbauan tersebut berlaku untuk tingkat perguruan tinggi. Nila mengatakan ISPU di atas 50, bayi tidak direkomendasikan keluar rumah. Lalu ISPU di atas 200 sangat berisiko terhadap anak di bawah 12 tahun termasuk kelompok yang rentan seperti ibu hamil, lanjut usia, dan penderita penyakit kronis.

    “Untuk itu SD dan SMP sebaiknya diliburkan dan di atas 300, SMA dan Universitas kami minta diliburkan. Di atas 400, masyarakat sebaiknya tidak beraktivitas keluar rumah,” kata Nila.

    DANANG FIRMANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.