Kisah Anak Korban Asap Kalteng: Tak Sekolah, Jauh dari Ibu  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anak-anak bermain mobil-mobilan tanpa mengenakan masker di tengah kabut asap di alun-alun Komplek Stadion Utama Riau, Pekanbaru, 18 Oktober 2015. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru menyatakan kabut asap di sejumlah daerah di Provinsi Riau kembali menebal. TEMPO/Riyan Nofitra

    Anak-anak bermain mobil-mobilan tanpa mengenakan masker di tengah kabut asap di alun-alun Komplek Stadion Utama Riau, Pekanbaru, 18 Oktober 2015. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru menyatakan kabut asap di sejumlah daerah di Provinsi Riau kembali menebal. TEMPO/Riyan Nofitra

    TEMPO.CO, Jakarta - Bencana kabut asap yang terus melanda Kalimantan Tengah membuat banyak keluarga memutuskan mengungsikan anak-anak mereka ke daerah lain. Kota terdekat yang kerap dipilih adalah Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

    Anak-anak ini dititipkan di rumah kerabat, sementara orangtua mereka kembali bekerja di Palangkaraya. Semua pendidikan mereka terbengkalai karena sekolah pun diliburkan sampai batas waktu yang tak ditentukan.

    “Kami baru putuskan mengungsi hari ini," kata Endang, seorang ibu rumah tangga di Palangkaraya, Kamis 22 Oktober 2015. "Kami baca berita dan dengar desakan kawan-kawan, kalau situasi di Palangkaraya saat ini tak kondusif untuk anak-anak," katanya.

    Suami Endang saat ini bekerja di sebuah kantor perkebuanan kelapa sawit yang berada di bilangan Jalan Cilik Riwut Palangkaraya. Endang mengaku sudah tak tahan bolak balik ke Banjarmasin selama sebulan terakhir untuk menghindari kabut asap.

    “Tak terhitung berapa kali kami harus ke Banjarmasin. Pokoknya setiap ada pengumuman libur sekolah karena pekatnya asap, kesokan harinya langsung kami larikan mereka ke Banjarmasin. Nah saat ini ini kebetulan liburnya cukup panjang, jadi kami ungsikan  lagi,”ujar Endang.

    Dia menyesalkan bagaimana bencana kabut asap telah membuat program belajar anaknya terganggu. Apalagi saat ini seharusnya sudah dilakukan ujian tengah semester (UTS).Dua bulan mendatang pada pertengahan Desember, semua siswa seharusnya menjalani ujian semester.

    “Padahal penyerapan pelajaran pada semester ini belum sampai 50 persennya. Terus kita ujian apa? Di Jawa setahu saya UTS itu sudah dilakukan pada awal Oktober lalu,”ujar Endang.

    Melihat kondisi ini, ia berencana setibanya di Banjarmasin akan mencarikan guru privat bagi anak-anaknya agar pelajaran mereka tidak ketinggalan. Endang sendiri harus segera kembali ke Palangkaraya bersama suaminya untuk bekerja.

    “Kadang saya juga sedih harus meninggalkan mereka berhari-hari jauh dari kami. Tapi kami mau bagaimana lagi? Kondisinya tak memungkinkan untuk kesehatan anak-anak. Kami sementara tak memikirkan sekolahnya dulu, yang penting kesehatan mereka jangan sampai terganggu,”tegas Endang.

    Hal yang sama dilakukan oleh Andi Mesra (42) seorang ibu rumah tangga yang tinggal di bilangan Jalan RTA. Milono,  Palangkaraya. Ia mengatakan terpaksa harus mengungsikan kedua anaknya yang masih kecil-kecil ke Banjarmasin, Kalsel mengingat saat ini kabut asap semakin pekat dan sangat membahayakan untuk kesehatan anak-anaknya.

    "Kami terpaksa harus mengungsi ke Banjarmasin dulu karena kami tak bisa memaksakan terus tinggal di Palangkaraya dengan menghirup asap yang tidak sehat,"ujar Andi.

    KARANA WW

    Baca juga:
    Dewie Limpo Terjerat Suap: Inilah 7 Fakta Mencengangkan
    Skandal Suap: Terkuak, Ini Cara Dewie Limpo Bujuk Menteri


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.