Hari Santri, Ratusan Santri di Klaten Gelar Upacara Bendera

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah santri mengikuti upacara di Dewan Pengurus Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa (DPW PKB) Jawa Timur di Surabaya, Jawa Timur, 22 Oktober 2015. Kegiatan tersebut dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional. ANTARA Foto

    Sejumlah santri mengikuti upacara di Dewan Pengurus Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa (DPW PKB) Jawa Timur di Surabaya, Jawa Timur, 22 Oktober 2015. Kegiatan tersebut dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional. ANTARA Foto

    TEMPO.CO, Klaten -Berada di pelosok dan jauh dari keramaian kota, warga dan para santri di Desa Troso di Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah tak mau ketinggalan ikut merayakan penetapan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2015.

    Peringatan Hari Santri di Pondok Pesantren Al Muttaqien dirayakan dengan upacara bendera dan pembacaan ikrar santri, serta penampilan atraksi seni bela diri. “Dengan ditetapkannya Hari Santri, kami merasa mendapat perhatian yang setara dari pemerintah, sama dengan perhatian yang diberikan pada para pelajar di sekolah umum,” kata Fatkhiyana Zulfa, 15 tahun, salah satu santri di Pondok Pesantren Al Muttaqien.

    Pondok pesantren Al Muttaqien di Desa Troso didirikan pada 1994 oleh Mbah Liem, salah satu sesepuh Nahdlatul Ulama. “Pro kontra ihwal penetapan Hari Santri itu wajar dalam kehidupan demokrasi,” kata Ketua Yayasan Al Muttaqien Pancasila Sakti, A. Muhammad Choiri Fatkullah. Menurut Choiri, kekhawatiran muncul lagi dikotomi santri-abangan di kalangan masyarakat akibat penetapan Hari Santri terlalu berlebihan.

    Hal senada diungkapkan Sekretaris Yayasan Al Muttaqien Pancasila Sakti Choiri Saifudin Zuhri. “(Almarhum) Mbah Liem tidak pernah membeda-bedakan santri dan abangan,” kata Saifudin. Mbah Liem, kata dia,  sengaja membangun pondok pesantren tepat di tengah kaum abangan. “Tujuan beliau menjadi penengah dari kalangan santri yang hanya memikirkan akhirat di sisi kanan dan kalangan abangan yang hanya mengedepankan logika di sisi kiri,” kata Saifudin.

    Sebelum upacara, ratusan santri berpakaian serba putih berjalan kaki menyusuri gang-gang sempit beralas beton di permukiman yang dikepung sawah. Di barisan terdepan, enam santri perempuan membentangkan spanduk besar bertuliskan “Kirab Hari Santri Nasional”. Diiringi permainan drum band dan rebana, ratusan santri di belakangnya melantunkan lagu-lagu berbahasa Arab yang mengagungkan nama Tuhan dan Nabi Muhammad dengan penuh semangat.

    Meski Hari Santri yang ditetapkan Presiden Joko Widodo masih menjadi kontroversi, sebagian warga Desa Troso seolah tidak peduli. Sembari menggandeng atau menggendong anak-anaknya, sejumlah warga turut bergabung dalam kirab sederhana, yang berujung pangkal di Pondok Pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti.

    Setelah 21 tahun berlalu, Saifudin mengatakan, pondok peninggalan Mbah Liem kini tidak hanya dipadati para santri dari dua wilayah, yang semula berseberangan paham tersebut. “Saat ini, santri kami dari Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) dan Madrasah Aliyah (setingkat SMA) mencapai 450 orang dari 11 provinsi di Indonesia,” kata Saifudin.

    DINDA LEO LISTY

    Baca juga:
    Dewie Limpo Terjerat Suap: Inilah 7 Fakta Mencengangkan
    Skandal Suap: Terkuak, Ini Cara Dewie Limpo Bujuk Menteri

     

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Uji Praktik SIM dengan Sistem Elekronik atau e-Drives

    Ditlantas Polda Metro Jaya menerapkan uji praktik SIM dengan sistem baru, yaitu electronic driving test system atau disebut juga e-Drives.