Udara di Daerah Asap Sumatera Berbahaya dan Beracun

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perahu membawa wisatawan berlayar menembus kabut asap yang menyelimuti perairan Pantai Gandoria, Pariaman, Sumatera Barat, 14 Oktober 2015. Meski kabut asap masih pekat, warga tetap memanfaatkan waktu libur Tahun Baru Islam (1 Muharram 1437 H) dengan mengujungi sejumlah tempat wisata. ANTARA/Maril Gafur

    Perahu membawa wisatawan berlayar menembus kabut asap yang menyelimuti perairan Pantai Gandoria, Pariaman, Sumatera Barat, 14 Oktober 2015. Meski kabut asap masih pekat, warga tetap memanfaatkan waktu libur Tahun Baru Islam (1 Muharram 1437 H) dengan mengujungi sejumlah tempat wisata. ANTARA/Maril Gafur

    TEMPO.CO, PADANG -Kualitas udara akibat kabut asap di Sumatera Barat kembali memburuk. Tingkat konsentrasi aerosol atau partikel debu (PM10) mencapai 636 mikrogram per meter kubik, dengan kategori berbahaya.

    "Asap semakin tebal. Pengaruh angin yang masih bertiup dari wilayah tenggara, yaitu wilayah selatan Sumatera," uar Kepala Stasiun Global Atmosphere Watch (GAW) Bukit Kototabang Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Edison, Kamis 22 Oktober 2015.

    Apalagi, kata Edison, beberapa hari ini banyak ditemukan titik api di selatan Sumatera. Sehingga dalam satu hingga dua hari, asap akibat kebakaran lahan dan hutan itu tiba di Sumatera Barat. "Ini yang menyebabkan asap kembali pekat di Sumatera Barat,"ujarnya. .

    Hasil pengukuran stasiun GAW BMKG di Koto Tabang, Kabupaten Agam, Kamis 22 Oktober 2015 sejak pukul 07.00 WIB hingga 12.00 WIB, kualitas udara menunjukan kategori berbahaya. Tingkat konsentrasi aerosl atau partikel debu (PM10) antara 434 hingga 636 mikrogram per meter kubik.

    Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sumatera Barat R. Pagar Negara mengatakan hari ini kabut asap semakin tebal menyelimuti sebagian daerah di Sumatera Barat. Kualitas udara kembali berbahaya.

    "Kami masih mengumpulkan data di kabupaten dan kota," ujarnya Kamis 22 Oktober 2015.

    Sekretaris Daerah Bukittinggi Yuen Karnova mengatakan, kualitas udara di daerahnya semakin memburuk. Partikel debunya lebih dari 500 mikrogram per meter kubik. Makanya, pemerintah daerah meliburkan seluruh sekolah.

    "Mulai hari ini kita sepakati untuk meliburkan seluruh siswa. Mereka kembali sekolah Senin depan," ujarnya kepada Tempo, Kamis 22 Oktober 2015.

    ANDRI EL FARUQI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.