Paru-paru Bocah Korban Asap Riau Seperti Ada Gumpalan Awan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivis Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan melakukan aksi Kamisan di tengah kabut asap yang menyelimuti kota di depan kantor Gubernur, Jalan Sudirman, Pekanbaru, Riau (13/3). Selain menuntut penuntasan kasus-kasus HAM, jaringan solidaritas korban untuk keadilan juga meminta kepada Pemerintah agar secepatnya menyelesaikan permasalahan kabut asap kebakaran lahan dan hutan di Riau. ANTARA/Rony Muharrman

    Aktivis Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan melakukan aksi Kamisan di tengah kabut asap yang menyelimuti kota di depan kantor Gubernur, Jalan Sudirman, Pekanbaru, Riau (13/3). Selain menuntut penuntasan kasus-kasus HAM, jaringan solidaritas korban untuk keadilan juga meminta kepada Pemerintah agar secepatnya menyelesaikan permasalahan kabut asap kebakaran lahan dan hutan di Riau. ANTARA/Rony Muharrman

    TEMPO.CO, Pekanbaru -Ramadhani Luthfi Aerli, 9 tahun, akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya, Rabu 21 Oktober 2015 pukul 04.00 menjelang adzan subuh setelah berjam-jam melawan rasa sakit. Luthfi sebelumnya mengalami panas tinggi, muntah, dan kejang-kejang.

    Bocah korban paparan asap di Pekanbaru itu, tak bisa diselamatkan meski sudah dirawat di Rumah Sakit Santa Maria, Pekan Baru. Dokter dan perawat medis yang menanganinya, sudah melakukan berbagai upaya. Luthfi yang divonis dokter mengalami penipisan oksigen di Jantung akhirnya meninggal.

    Yuliarni, Manajer Medis Rumah Sakit Santa Maria Pekanbaru menuturkan, Luthfi dibawa orang tuanya dalam kondisi parah. Tim dokter memberikan infus dan oksigen di Ruang PICU. "Saat datang pasien sudah panas dan kejang-kejang, kondisinya sudah berat," kata Yuliarni.

    Namun Yuliarni tidak dapat menjelaskan secara medis penyakit yang diderita Luthfi lantaran yang merawatnya merupakan dokter piket malam. "Yang merawat pasien dokter malam, saya tidak bisa jelaskan secara medis, karena bukan saya menangani," ujarnya.

    Yuliarni pun tidak bisa memastikan pasien meninggal akibat gangguan asap. Namun kata dia, dampak asap itu dapat menimbulkan panas dan kejang pada anak.

    Heri Wirya, ayah Lutfhi menuturkan, Selasa siang anaknya mengeluh demam kepada ibunya. Sang ibu, memberikan obat penurun panas. “Setelah minum obat anak saya tidur sampai jam 7 malam,” kata Heri Wirya, ayah korban, kepada Tempo, di rumah duka, Rabu, 21 Oktober 2015.

    Namun suhu badan Lutfhi tidak kunjung turun, tepat pukul 10.00 korban mengalami muntah dan kejang-kejang. Khawatir dengan kesehatan anaknya, Heri membawa Lutfhi ke rumah sakit Santa Maria, tidak jauh dari rumahnya. Namun kesadaran Luthfi kian menurun.

    Menurut Heri, anak sulungnya tak punya riwayat penyakit kronis: gangguan pernafasan atau jantung. “Fisiknya itu kuat, jarang sakit,” katanya.

    Heri tidak habis pikir mengapa begitu cepat Luthfi meninggal setelah mengeluh demam, kejang-kejang dan muntah. Heri menduga sakit yang menyerang anaknya merupakan dampak dari kabut asap yang menyelimuti Pekanbaru tak kunjung usai sejak dua bulan lamanya.

    Dugaan Heri diperkutat dengan pernyataan tim dokter Rumah Sakit Santa Maria yang menangani Lutfhi menyebutkan, anaknya mengalami penipisan oksigen di jantung. Dari hasil foto medis rontgen dadanya, Heri mengaku paru-paru korban tampak ditutupi seperti gumpalan awan. Namun Heri tidak mengetahui persis apa sebenarnya yang menutupi paru-paru anaknya itu.

    "Dokter bilang penipisan oksigen di jantung, jantungnya bengkak, paru-parunya diditutupi seperti awan-awan begitu, tapi dokter tidak menyebutkan apakah itu flek atau lendir, saya tidak paham," jelasnya.

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Salip Menyalip Tim Sepak Bola Putra Indonesia Versus Vietnam

    Timnas U-23 Indonesia versus Vietnam berlangsung di laga final SEA Games 2019. Terakhir sepak bola putra meraih emas di SEA Games 1991 di Filipina.