Asap di Kalteng Makin Pekat, Oksigen di Apotek Habis  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga melintasi Jalan RTA Miilono yang masih diselimuti asap di Palangkaraya, Kalteng, 1 Oktober 2015. Kualitas udara berdasarkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Palangkaraya berada di angka 1.398, sementara  batas akhir level berbahaya ISPU berada pada angka 500. ANTARA/Rosa Panggabean

    Warga melintasi Jalan RTA Miilono yang masih diselimuti asap di Palangkaraya, Kalteng, 1 Oktober 2015. Kualitas udara berdasarkan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Palangkaraya berada di angka 1.398, sementara batas akhir level berbahaya ISPU berada pada angka 500. ANTARA/Rosa Panggabean

    TEMPO.CO, Palangkaraya - Kondisi kabut asap di Kalimantan Tengah selama tiga hari ini semakin pekat. Bahkan dua hari lalu indeks standar pencemaran udara (ISPU) masuk kategori berbahaya karena mencapai level 542.

    “Dalam jangka pendek ini kita akan melakukan berbagai upaya untuk mengatasinya," ujar Direktur Tanggap Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana Tri Budiarto di kantor Badan Lingkungan Hidup Kalimantan Tengah, Kamis, 22 Oktober 2015. Misalnya, memperbanyak jumlah rumah singgah dan menguatkan satuan tugas kesehatan.

    Menyinggung semakin pekatnya kabut asap, kata dia, pemerintah tak akan menyerah untuk melakukan pemadaman terhadap lokasi yang terbakar dan satuan tugas terus berusaha sekuat tenaga memadamkannya.

    Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah Suprastija Budi mengatakan hingga saat ini yang dibutuhkan mendesak yakni pengadaan oksigen bagi kebutuhan untuk puskesmas, rumah singgah, dan rumah sakit. “Stok yang kami miliki telah ludes semua. Sementara kami sudah lama mengusulkan kepada Kementerian Kesehatan 5.000 botol oksigen namun yang datang baru sekitar 1.400 botol. Alasan Kementerian karena mereka juga kehabisan,” ujarnya.

    Dari pantauan Tempo, di sejumlah apotek di Palangkaraya sudah tidak mempunyai persediaan oksigen. Padahal di saat normal oksigen adalah barang yang sulit untuk laku, tapi di saat kabut asap seperti sekarang ini justru keberadaannya sulit untuk dicari.

    “Sudah sepekan ini kami kehabisan stok oksigen. Biasanya harga jualnya sekitar Rp 40 ribu per botol, namun sekarang harga bisa mencapai dua kali lipat. Itupun kalo ada barangnya,” ujar seorang karyawan apotek di Jalan Cilik Riwut, Palangkaraya.

    Dari data Pokso Kebakaran Hutan dan Lahan Kalimantan Tengah untuk pekan pertama dan kedua Oktober 2015, jumlah penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kalimantan Tengah mencapai 3.788 penderita, dengan jumlah terbanyak di Palangkaraya (825 orang), Kotawaringin Timur (646 orang), dan Kapuas (584 orang).

    Kemudian untuk penderita penyakit diare mencapai 732 orang dengan jumlah terbanyak terdapat di Kotawaringin Timur (376 orang), Kotawaringin Barat (164 orang), dan Seruyan (108 orang).

    KARANA W.W.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.