Suhu Siang Hari Kota Surabaya Akan Berangsur Normal  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • REUTERS/Thomas Krumenacker

    REUTERS/Thomas Krumenacker

    TEMPO.CO, Surabaya - Seperti diprediksikan, suhu udara siang hari di Kota Surabaya terus meninggi hingga Rabu, 21 Oktober 2015. Angkanya sampai mencapai 36,7 derajat Celsius atau empat derajat lebih panas daripada suhu normal sebagai dampak posisi matahari yang berada vertikal di atas kota ini.

    Bambang Setiadji, Kepala Seksi Data dan Informasi di Stasiun Meteorologi Juanda Surabaya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, mengatakan, seperti yang telah diprediksikan sebelumnya pula, suhu akan bergerak turun kembali mulai hari ini.

    “Peningkatan suhu menjadi 36 derajat bisa dilihat dari fisik, yakni bibir menjadi kering, timbulnya dehidrasi, dan untuk orang dengan daya tahan fisik lemah, akan mudah pusing. Selain itu, dapat memicu kebakaran,” katanya.

    Peningkatan suhu terjadi karena posisi matahari yang tegak lurus dengan letak Kota Surabaya itu terukur sejak pekan kedua Oktober 2015. Sementara kisaran suhu siang hari biasanya 31-32 derajat Celsius, sejak saat itu melonjak menjadi 35-36 derajat Celsius.

    Menurut data dari Stasiun Meteorologi Juanda, pada 14 Oktober 2015, misalnya, suhu siang hari maksimal mencapai 35 derajat, lalu meningkat pada 17 Oktober menjadi 36,3 derajat, dua hari berselang naik lagi menjadi 36,5 derajat, dan diyakini mencapai maksimal pada 21 Oktober, yaitu 36,7 derajat.

    “Paling panas di wilayah Perak karena posisinya yang lebih rendah dan banyak aktivitas kendaraan besar,” kata Bambang. Ia menambahkan, selisih suhu di tiap wilayah bisa berbeda. “Misalkan di Perak 36,7, di Juanda bisa 35,7.”

    Bambang juga pernah menjelaskan bahwa suhu maksimal siang hari di Kota Surabaya akibat posisi unik matahari ini akan terjadi pada 21 Oktober 2015. Selanjutnya kisaran suhu akan kembali turun menuju normal.

    Heri, 41 tahun, juru parkir di wilayah Perak timur, juga mengatakan bulan ini memang lebih panas daripada biasanya. “Panasnya luar biasa bulan ini,” ujarnya. Biasanya, ia hanya mengenakan topi untuk melawan terik matahari. Tapi belakangan, ia menambahkan kain di wajah.

    KURNIAWAN ARIEF


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.