Begini Kronologi Bocah Meninggal Diduga karena Kabut Asap

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengendara melintas di jalan yang dipenenuhi kabut asap kebakaran hutan dan lahan di Pekanbaru, Riau, 30 September 2015. Sumatera Selatan masih menjadi daerah penyumbang titik panas terbanyak mencapai 177 titik. ANTARA/Rony Muharrman

    Pengendara melintas di jalan yang dipenenuhi kabut asap kebakaran hutan dan lahan di Pekanbaru, Riau, 30 September 2015. Sumatera Selatan masih menjadi daerah penyumbang titik panas terbanyak mencapai 177 titik. ANTARA/Rony Muharrman

    TEMPO.CO, Pekanbaru Ramadhani Luthfi Aerli, bocah 9 tahun, meninggal diduga karena paparan kabut asap akibat sisa kebakaran hutan dan lahan yang mengepung Pekanbaru. Luthfi divonis dokter mengalami penipisan oksigen di jantung.

    Manajer Medis Rumah Sakit Santa Maria, Pekanbaru, Yuliarni, mengatakan, saat datang ke rumah sakit, pasien sudah dalam keadaan berat. Tim dokter langsung melakukan penanganan medis di Ruang PICU dengan memberikan infus dan oksigen. "Saat datang, pasien sudah panas dan kejang-kejang. Kondisinya sudah berat," ucap Yuliarni.

    Namun Yuliarni tidak dapat menjelaskan secara medis penyakit yang diderita Luthfi lantaran yang merawatnya merupakan dokter piket malam. "Yang merawat pasien dokter malam. Saya tidak bisa jelaskan secara medis, karena bukan saya menangani," ujarnya.

    Baca juga:
    Ini Pengakuan Mahasiswi UI yang Diculik tentang Penyekapnya
    Duh, Bapak Ini Ajari Anaknya Merokok dan Mabuk

    Yuliarni tidak bisa memastikan pasien meninggal akibat gangguan asap. Namun, tutur dia, dampak asap itu dapat menimbulkan panas dan kejang pada anak.

    Bencana Kabut Asap

    Luthfi meninggal menjelang azan subuh, Rabu, 21 Oktober 2015, di RS Santa Maria, Pekanbaru. Sebelum mendapat perawatan di rumah sakit. Luthfi mengeluh demam kepada ibunya sekitar pukul 12.00, Selasa, 20 Oktober 2015. Sang ibu, Lili, memberinya obat penurun panas.

    “Setelah minum obat, anak saya tidur sampai pukul 7 malam,” tutur Heri Wirya, ayah korban, kepada Tempo di rumah duka, Rabu.

    Namun suhu badan Luthfi tidak kunjung turun. Tepat pukul 22.00, korban mengalami muntah dan kejang-kejang. Khawatir dengan kesehatan anaknya, Heri membawa Luthfi ke RS Santa Maria, yang tidak jauh dari rumahnya. Luthfi di rawat di Ruang PICU. Namun, hingga pukul 03.00, Rabu dinihari, kesadarannya menurun, denyut jantungnya melemah. Korban akhirnya meninggal pukul 04.00.

    Heri mengaku anak sulungnya tersebut selama ini tidak punya riwayat penyakit kronis, baik gangguan pernapasan maupun jantung. “Fisiknya itu kuat, jarang sakit,” katanya.

    Baca juga:
    Ritual Ini Jadi Alasan Para Pendaki ke Gunung Lawu
    Begini Jejak Politik Dewie dan Klan Yasin Limpo

    Heri tidak habis pikir begitu cepat Luthfi meninggal hanya karena mengeluh demam. Heri menduga sakit yang menyerang anaknya merupakan dampak dari kabut asap yang menyelimuti Pekanbaru sejak dua bulan lalu.

    Sejumlah siswa menggunakan masker untuk melindungi dari kabut asap akibat kebakaran hutan di Palembang, Sumatra Selatan, 18 September 2015.

    Dugaan Heri diperkuat dengan pernyataan tim dokter RS Santa Maria yang menangani Luthfi. Dokter menyebutkan anaknya mengalami penipisan oksigen di jantung. Dari hasil foto medis roentgen dada anaknya, Heri mengaku paru-paru korban tampak ditutupi seperti gumpalan awan. Namun Heri tidak tahu persis apa sebenarnya yang menutupi paru-paru anaknya itu.

    "Dokter bilang penipisan oksigen di jantung. Jantungnya bengkak. Paru-parunya ditutupi seperti awan-awan begitu. Tapi dokter tidak menyebutkan apakah itu flek atau lendir. Saya tidak paham," tuturnya.

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tahun-Tahun Indonesia Juara Umum SEA Games

    Indonesia menjadi juara umum pada keikutsertaannya yang pertama di SEA Games 1977 di Malaysia. Belakangan, perolehan medali Indonesia merosot.