Pemerintah Impor Beras Jika Hujan Tak Turun Akhir Oktober

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi dengan Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik, Djarot Kusumayakti (kanan) dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno melihat pasokan beras di Pergudangan Bulog, Sunter, Jakarta, 2 Oktober 2015. Tempo/Aditia Noviansyah

    Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi dengan Direktur Utama Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik, Djarot Kusumayakti (kanan) dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno melihat pasokan beras di Pergudangan Bulog, Sunter, Jakarta, 2 Oktober 2015. Tempo/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo mengatakan pemerintah akan melakukan impor beras untuk memperkuat cadangan nasional bila hujan tak kunjung turun. Hal itu disampaikan Jokowi sesuai mengelilingi stand di pameran Trade Expo Indonesia di JIExpo, Kemayoran, Jakarta.

    "Impor itu kita lakukan untuk memperkuat cadangan beras nasional, tetapi bisa ditaruh di Vietnam atau Thailand, bisa ditaruh di sini," kata Jokowi di kawasan JIExpo, Jakarta, Rabu, 21 Oktober 2015.

    Soal jumlah beras yang akan diimpor, Jokowi mengatakan, "Tanya ke Kepala Bulog."

    Jokowi memutuskan impor jika pemerintah melihat kebutuhan beras diperlukan. "Kalau minggu ketiga atau minggu keempat Oktober hujannya masih ragu-ragu, ya memang kalau perlu beras itu ditarik ke Indonesia‎," kata dia.

    Jokowi belum memutuskan untuk mengimpor beras. Namun beras impor tersebut siap untuk dikirim ke Indonesia. "Jadi belum diputuskan. tapi beras sudah ada, iya."

    Sebelumya, Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pemerintah telah melakukan pembicaraan mengenai impor beras dengan Vietnam dan Thailand. Rencananya beras bakal diimpor dari dua negara tersebut dengan jumlah kurang dari satu juta ton.

    "Kami memang sudah bicara dengan Vietnam dan Thailand. Tapi memang sedikit terlambat, karena stoknya jauh di bawah harapan," ujar Darmin, Selasa, 13 Oktober 2015.

    Darmin menjelaskan pembahasan mengenai pembelian beras dengan kedua negara tersebut sedikit terlambat sehingga kuota beras yang bakal diimpor tak sampai satu juta ton. Sebab, ujar Darmin, pasokan beras dari negara tetangga telah diborong oleh Filipina.

    "Bukan karena nggak sampai 1 juta ton, tapi nggak ada lagi stoknya, sudah tidak dapat," ujar Darmin. Darmin menjelaskan, impor beras perlu dipersiapkan untuk mengatisipasi adanya El Nino yang panjang. Kondisi tersebut tentunya berpengaruh kepada produksi padi yang seret sehingga menyebabkan kelangkaan di pasar dan membuat harga beras melonjak. "

    ALI HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.