Masih Ada 633 Titik Api di Sumatera

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kabut asap selimut daerah yang dilewati oleh sejumlah pembalap sepeda pada etape ketiga Tour De Singkarak 2015 di Sijunjung, Sumatera Barat, 5 Oktober 2015. ANTARA FOTO

    Kabut asap selimut daerah yang dilewati oleh sejumlah pembalap sepeda pada etape ketiga Tour De Singkarak 2015 di Sijunjung, Sumatera Barat, 5 Oktober 2015. ANTARA FOTO

    TEMPO.CO, Pekanbaru - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Stasiun Pekanbaru melaporkan satelit Terra dan Aqua masih memantau 633 titik panas di sejumlah wilayah Sumatera.

    Jumlah tersebut menurun dibanding hari sebelumnya, yang mencapai 813 titik. Sumatera Selatan masih menjadi daerah penyumbang titik panas terbanyak, yakni 462 titik.

    "Titik panas terpantau pukul 07.00 pagi," kata Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru Sugarin Widayat, Rabu, 21 Oktober 2015.

    Sugarin mengatakan titik panas juga terpantau di beberapa daerah lain, seperti Jambi 70 titik, Bangka-Belitung 28 titik, Lampung 23 titik, Bengkulu 19 titik, dan Sumatera Barat 6 titik.

    Sedangkan untuk wilayah Riau, terpantau 25 titik, yang tersebar di Indragiri Hilir 13 titik, Indragiri Hulu 8 titik, dan Meranti 3 titik. "Tingkat keprcayaan di atas 70 persen atau 22 titik," ujarnya.

    Sugarin menjelaskan, secara umum kondisi cuaca di wilayah Riau berawan diselimuti kabut asap. Peluang hujan sangat kecil dengan intensitas ringan terjadi pada sore hari di Riau bagian utara. "Temperatur maksimum 31-33,5 derjat Celsius," katanya.

    Berdasarkan pantauan Tempo, kabut asap kian pekat menyelimuti Pekanbaru. Aroma asap cukup terasa menusuk hidung. Sinar matahari terhalang asap sehingga suasana pagi tampak seperti senja.

    Kabut asap mengganggu jarak pandang di beberapa wilayah Riau, seperti Pekanbaru 500 meter, Rengat 500 meter, Dumai 300 meter, dan Pelalawan 200 meter.

    RIYAN NOFITRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Harley Davidson dan Brompton dalam Daftar 5 Noda Garuda Indonesia

    Garuda Indonesia tercoreng berbagai noda, dari masalah tata kelola hingga pelanggaran hukum. Erick Thohir diharapkan akan membenahi kekacauan ini.